Rabu, 3 Juli 2019 12:18

Wilayah di Cimahi yang Sudah Krisis Air

SPAM Cimahi Utara UPT Air Minum Kota Cimahi [ferybangkit]

Limawaktu.id - Sekitar tujuh titik wilayah di Kota Cimahi dilaporkan mengalami krisis air bersih akibat musim kemarau. Hal itu bisa terlihat dari laporan yang masuk ke Unit Pelaksana Teknis (UPT) Air Minum pada Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman (DPKP) Kota Cimahi.

Tercatat ada tujuh wilayah yang sudah meminta suplai air bersih dari Sistem Pengolahan Air Minum (SPAM) UPT Air Minum Kota Cimahi karena krisis air bersih. Ketujuh lokasi itu berada di Kelurahan Cibabat dua RW, Pasirkaliki satu RW, Kelurahan Cimahi 1 RW, Kelurahan Melong dua RW, Kelurahan Setiamanah satu RW serta Kelurahan Leuwigajah satu RW.

"Kalau laporan yang masuk itu baru 7 (tujuh) minta disuplai air bersih. Semuanya sudah kita kirim. Leuwigajah baru menghubungi hari ini," terang Kepala UPT Air Minum pada DPKP Kota Cimahi, Dede M Asrori saat ditemui di Pemkot Cimahi, Jln. Rd. Hardjakusumah, Rabu (3/7/2019). 

Dalam sekali pengiriman air bersih ke satu titik, terang Dede, pihaknya bisa mensuplai hingga 5.000 liter air bersih. Pengiriman dilakukan menggunakan mobil tengki.

Sejauh ini, lanjut Dede, ketersediaan air bersih di SPAM yang dikelola pihaknya masih sangat mencukupi untuk mensuplai kebutuhan masyarakat yang terkena dampak krisis air bersih.

"Untuk ketersediaan air di SPAM masih leluasa. Kalau 7 lokasi pengiriman itu seminggu 2 kali, hanya 140 meter kubil seminggu. Jadi ketersediaan masih banyak," jelas Dede.

Saat ini, kapasitas pengolahan air bersih masih mencapai 50 liter per detik. Kapasitas sebanyak itu saat ini hanya baru dimanfaatkan oleh 2.800 pelanggan, dari kapasitas maksimal 5.000 pelanggan.

"Kalau produksi itu kan sehari sekitar 4.300 meterkubik, stok yang belum digunakan 1.500 meterkubik sehari," terangnya.

Perihal sumber pengolahan air, lanjut Dede, sejauh ini masih terpantau aman. Sumber air yang diolah SPAM Kota Cimahi berasal dari Sungai Cimahi. "Tahun lalu juga aman sampai akhir musim kemarau," tandasnya.

Sementara itu Badan Meteorologi, Klimatologi, Geofisika (BMKG) Klas I Bandung, melakukan monitoring pemetaan kondisi kemarau berdasarkan curah hujan selama akhir Mei hingga Juni 2019.

Hasilnya, saat ini kondisi khususnya di Bandung Raya sudah memasuki musim kemarau dengan indikator rendahnya curah hujan selama beberapa minggu belakangan.

"Terakhir pemantauan itu tanggal 20 Juni kemarin, hasilnya curah hujan sangat rendah dengan rata-rata hanya 10 mm per hari," ujar Kepala BMKG Klas I Bandung, Tony Agus Wijaya.

Pihaknya akan terus melakukan monitoring kondisi cuaca untuk menentukan status kemarau yang melanda Bandung Raya.

"Akan ada penentuan status awas atau siaga untuk kondisi kemarau yang terjadi di Bandung Raya. Kalau kondisi hari tanpa hujan lebih dari 30 hari siaga, kalau lebih dari 60 hari kategori awas," jelasnya.

Menghadapi musim kemarau yang diprediksi akan terjadi hingga akhir bulan Oktober nanti, masyarakat diimbau melakukan penampungan air dan mewaspadai potensi kebakaran.

"Sektor pertanian pasti juga akan sangat terdampak. Kita imbau untuk menerapkan sistem tadah hujan. Kalau kekeringan sudah jelas, sumber air tidak akan terpasok air hujan," tandasnya. 

 

Berita Terkait