Selasa, 28 Agustus 2018 10:13

Wow, Produksi Padi di Kota Cimahi Meningkat Tapi Sayang ...

Reporter : Fery Bangkit 
Seorang Petani Tengah Menggarap Sawah di Jalan Aruman, Cibabat, Kota Cimahi
Seorang Petani Tengah Menggarap Sawah di Jalan Aruman, Cibabat, Kota Cimahi [Fery Bangkit/limawaktuid]

Limawaktu.id, - Dinas Pangan dan Pertanian Kota Cimahi mengklaim, produksi padi di Kota Cimahi terus mengalami peningkatan. Jika tahun 2017 produksi padi mencapai 6,2 ton, tahun ini pihaknya optimis naik sebanyak 6,5 ton.

"Tahun ini targetnya 6,5 ton, sebelumnya 6,2 ton, dan tahun 2016 mencapai 6 ton. Alhamdulillah setiap tahun produksi padi di Cimahi terus meningkat. Kita akan terus tingkatkan produktivitas padi dengan berbagai upaya," kata Mita Mustikasari, Kepala Bidang Pertanian pada Dinas Pangan dan Pertanian Kota Cimahi saat ditemui di Pemkot Cimahi, Jln. Rd. Hardjakusumah, Selass (28/8/2019).

Baca Juga : Musim Kemarau Petani di Lembang Malah Untung, ko bisa?

Menurut Mita, berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan produksi padi di wilayahnya. Diantaranya penggunaan Varietas Unggul Baru (VUB), penerapan teknologi sistem budidaya padi jajar legowo, pemupukan yang berimbang, serta penanggulangan hama dan penyakit tanaman.

Pihaknya juga terus meningkatkan kemampuan para perani dengan mengikutkannya dalam pelatihan budidaya padi untuk meningkatkan produktivitas padi.

Namun diakuinya, meski terus meningkat produksinya, itu belum mampu memenuhi kebutuhan pangan warganya yang kurang lebih mencapai 3.700 ton per bulan. Belum terpenuhinya kebutuhan pangan ini karena luas lahan pertanian di Cimahi terbatas, yakni hanya 137 hektare yang tersebar di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Cimahi Utara, Tengah, dan Selatan.

Sementara untuk lahan sawah yang masih ditanami padi dilakukan sistem pengairan secara bergiliran atau irigasi oleh kelompok tani.

"Lahan sawah yang masih ditanami padi ada 70 hektare, terdiri dari 30 hektare yang standing crop (tanaman tegakan) kira-kira sebulan lagi panen. Sisanya baru tanam 2 minggu. Lokasinya di cibabat, utama, citeureup, padasuka," terang Mita.

Sehingga untuk memenuhi kebutuhan pangan warga, pihaknya mengandalkan ketersediaan beras yang ada di pasar yang dipasok dari luar Kota Cimahi.

"Biasanya beras yang masuk ke pasar tradisional cimahi dipasok dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jakarta, Banjar dan Tasikmalaya," beber Mita.

Perihal kemarau panjang, Mita memastikan tidak akan mempengaruhi produksi tanaman pangan di Kota Cimahi. Selain sudah diantisipasi, pada saat masuk musim kemarau sebagian besar lahan pertanian di Cimahi sudah masuk musim panen.

"Di cimahi tidak ada kekeringan karena pada saat masuk musim kemarau Petani sebagian besar sudah masuk musim panen," ungkap Mita.

Menurutnya, untuk wilayah RW 16 Kelurahan Cipageran Kecamatan Cimahi Utara yang biasa terjadi kekeringan, saat ini tidak ditanami padi dan status lahan sedang diberakan (tidak ditanami).

"Tahun lalu wilayah ini mengalami kekeringan. Sekarang Alhamdulillah tidak ada karena tidak ditanami padi," ujar Mita.

Ia mengaku sebelumnya sudah mengimbau petani untuk tidak memaksakan menanam padi menjelang musim kemarau. Hal ini untuk menghindari resiko gagal panen.

"Sejak awal sudah antisipasi dan wanti-wanti melalui PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan), jangan memaksakan menanam padi yang tidak mungkin terairi saat tidak ada hujan, pasti petani sudah tahu dan paham," imbuhnya.

Baca Lainnya