Limawaktu.id Bandung Barat – Java Halu Coffee diproyeksikan terus memperluas pasar ekspor Kopi Arabika setelah kembali mengirimkan 20,4 ton kopi spesialti ke Australia, Jepang, Inggris, dan Vietnam. Keberhasilan menembus pasar Vietnam yang telah dinantikan selama tujuh tahun diperkirakan akan menjadi pintu masuk bagi ekspansi ke negara-negara Asia lainnya sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani kopi di Bandung Barat.
Founder & CEO Java Halu Coffee, Rani Mayasari Partadiredja, menilai keberhasilan memasuki pasar Vietnam akan membuka peluang peningkatan volume ekspor pada tahun-tahun mendatang. Selama ini, Vietnam menjadi salah satu negara yang paling sulit ditembus karena memiliki standar dan karakter pasar yang berbeda.
"Awalnya kami pikir yang paling rigid itu Jepang. Ternyata perjalanan menuju Vietnam juga membutuhkan proses yang panjang. Setelah tujuh tahun akhirnya kami bisa masuk ke sana," ujar Rani.
Permintaan pasar internasional diperkirakan terus meningkat. Saat ini Vietnam menjadi negara dengan permintaan terbesar, mencapai lebih dari 10 ton dari total ekspor 20,4 ton. Kondisi tersebut membuat kapasitas produksi Java Halu Coffee meningkat lebih dari empat kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Peningkatan permintaan tersebut diperkirakan akan berdampak positif terhadap sektor hulu. Saat ini Java Halu Coffee mengembangkan perkebunan kopi seluas sekitar 60 hektare, dengan sekitar 80 persen lahan dikelola masyarakat melalui pola kemitraan.
Sebanyak 60 kepala keluarga petani menjadi mitra perusahaan, sementara sekitar 80 persen tenaga kerja di sektor pengolahan berasal dari kalangan perempuan. Model kemitraan tersebut diproyeksikan terus diperluas seiring bertambahnya permintaan pasar ekspor.
Di sisi lain, harga beli buah kopi (cherry) dari petani juga mengalami tren kenaikan. Jika tahun lalu harga tertinggi berada di kisaran Rp18.000 per kilogram, kini mencapai Rp20.000 hingga Rp26.000 per kilogram, yang dinilai menjadi kabar baik bagi petani kopi di Bandung Barat.
"Di tengah kondisi ekonomi yang masih menantang, kami justru melihat produksi meningkat lebih dari empat kali lipat. Ini menjadi motivasi untuk terus memperluas pasar," kata Rani.
Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail optimistis keberhasilan Java Halu Coffee akan menjadi contoh bagi pelaku usaha kopi lainnya untuk meningkatkan kualitas produk sehingga mampu bersaing di pasar global.
Menurut Jeje, keberhasilan ekspor ke empat negara membuktikan bahwa kopi asal Bandung Barat memiliki daya saing internasional sekaligus mampu mengangkat citra daerah sebagai salah satu sentra kopi berkualitas di Indonesia.
"Keberhasilan ini diharapkan dapat meningkatkan derajat petani kopi Bandung Barat sekaligus menginspirasi petani lainnya agar terus meningkatkan kualitas hasil panennya sehingga mampu menembus pasar dunia," ujarnya.
Pada pengiriman kali ini, Java Halu Coffee mengekspor empat jenis kopi spesialti, yakni Double Soaked Washed, Black Honey, Natural Submerge Anaerob, dan Luak Enzim. Setiap negara menerima jenis kopi yang berbeda sesuai karakter cita rasa konsumennya.
Ke depan, meningkatnya permintaan ekspor diperkirakan tidak hanya memperkuat posisi Java Halu Coffee di pasar internasional, tetapi juga mendorong tumbuhnya ekosistem kopi di Bandung Barat melalui peningkatan produksi, perluasan kemitraan petani, penciptaan lapangan kerja, serta peningkatan nilai tambah komoditas kopi lokal.