Kamis, 11 November 2021 17:05

Webinar PT KAI, Reaktivasi Jalur Lama akan Tingkatkan Ekonomi Jabar

Reporter : Iman Nurdin
Direktur Umum PT KAI dalam  “Geliat Ular Besi dalam Meningkatkan Perekonomian di Jawa Barat”, Kamis (11/11/2021)
Direktur Umum PT KAI dalam “Geliat Ular Besi dalam Meningkatkan Perekonomian di Jawa Barat”, Kamis (11/11/2021) [Istimewa]

BANDUNG (limawaktu),-- PT KAI dan Pemrpov Jawa Barat merencanakan Reaktivasi jalur kereta api peninggalan kolonial Belanda di wilayah Jabar Selatan. Program reaktivasi ini upaya meningkatkan perekonomian masyarakat dengan pemanfaatan moda transportasi kereta api.

 Dalam Webinar PT KAI bertajuk “Geliat Ular Besi dalam Meningkatkan Perekonomian di Jawa Barat”, Kamis (11/11/2021) ini,  menghadirkan Keynote speaker Gubernur Ridwan Kamil.  Dia menyampaikan, Jabar berpenduduk memiliki 50 juta jiwa harus terkoneksi secara proporsional. Transportasi tidak hanya mengandalkan jalan tol, tetapi harus ada transportasi lainnya.

 “Di Eropa, mereka mengandalkan moda kereta api, yang ternyata efektif mengurai kemacetan. kita mempunyai peninggalan jalur kereta dari kolonial yang bisa kita reaktivasi untuk digunakan kembali, ini modal kita.” kata Ridwan.

 Menurutnya, reaktivasi jalur Bandung Garut sudah dilakukan. Di waktu mendatang, program ini akan berlanjut ke wilayah Jabar bagian selatan, Sumedang dan Pangandaran, yang sudah ada jalur peninggalan Belanda.

 Sementera Direktur Utama PT KAI Persero, Didiek Hartantyo menegaskan bahwa PT kereta api mengalami beberapa kali perubahan status. Hingga kini, status kereta api menjadi persero, PT KAI persero. Perubahan tersebut berdampak positif terhadap kemajuan perkeretaapian di Indonesia.

 Menurutnya, kereta api sangat penting bagi Jawa Barat, untuk perekonomian, pariwisata dan transportasi. Dilihat sejarah, jalur kereta yang menuju tempat pariwisata di Jabar banyak. “Sayang jika jalur-jalur tersebut tidak direaktivasi. Oleh karena itu proyek reaktivasi sedang direncanakan. Saat ini baru Bandung-Garut yang sudah jadi, yang lainnya masih perencanaan dengan perhubungan dan stikholder lainnya,” harapnya.

 Menurut Didiek, reaktivasi bisa menggenjot pariwisata Jabar, juga memudahkan laju perekonomian kota dan daerah, karena kapasitas gerbong yang besar, juga ada konektifitas integrasi bidang lainnya, yang ujungnya berimbas pada perekonomian.

 Mewujudkan visi kereta api, menjadi solusi transfortasi, akan bisa tercapai jika ada kolaborasi sinergi dengan berbagai pihak. Tentunya kereta api sebagai operator dan kebijakan insfrastruktur adalah pemerintah.

 Diketahui pendapatan PT KAI saat ini adalah dari angkutan logistik yang meningkat, namun dari angkutan penumpang disaat pandemi menurun. Berdasarkan itulah kedepan harus ada keseimbangan dalam pendapatan PT KAI, anatara logistik dan penumpang, saat ini sedang direncanakan.

 “Kami menyambut baik ajakan Gubernur Jabar, untuk membangun potensi pariwisata di Jabar, mari bersama dengan Dirjen Perkeretaapaian dan Perhubungan, mengaktifkan kembali jalur peninggalan Belanda agar dapat digunakan kembali,” ujarnya.

 Lebih lanjut Didiek mengatakan, PT KAI menjadi leading sponsor kereta api cepat, harapannya nanti akan muncul integrasi konektivitas di Stasiun Padalarang dan Stasiun Bandung. Ini akan meningkatkan kerjasama dengan Pemprov dan Pemda.

 Vice Presiden Public Relasion PT KAI  Jhoni Martinus dalam kesempatan menjadi pembicara Webinar tersebut menyampaikan, pada tahun 2019 volume penumpang dan barang kereta api realtif stabil.  Namun adanya pandemi Covid-19 tahun 2020,  volume pengguna kereta api turun drastis. Tahun 2021 masih terjadi penurunan, namun pihak PT KAI akan berusaha bangkit dan keluar dari krisis ini.

 “Kami melihat adanya potensi besar melalui industri besar yang bisa menggunakan jasa angkutan si ular besi. Seperti garmen, makanan minuman, dan komoditas lainnya, akan kita gali potensinya untuk meningkatkan pendapatan PT KAI persero,” ujar Jhoni.

 Jhoni mengatakan, tahun 2020 ada 33 mitra binaan PT KAI, yaitu di sektor industri, perdagangan dan pertanian, tersebar di Jawa Barat. Selain itu juga ada kerjasama pendanaan dengam UMK yang jumlahnya bervariasi, saat pandemi mengalami penurunan, tetapi PT KAI akan upayakan terus, agar dapat kembali normal.

 "Kami akan membuka kerjasama untuk membangkitkan perekonomian di Jabar, dengan mengoptimalkan moda kereta api".

 Sementara Pengamat Ekonomi Unpas Acuviarta Cartobi menjelaskan, mengembalikan aktifitas perekonomian di pasca pandemi, harus bertahap. Rencana reaktivasi jalur selatan Bandung-Ciwidey apabila sudah terealisasi, dampaknya akan luar biasa positif.

 “Berdasarkan studi dan penelitian dari luar negri, peningkatan transportasi kereta api sangat berdampak pada perekonomian masyarakat, karena nilai efisiensi biaya yang dihasilkan menggunakan moda kereta api,” katanya.

 Acuviarta menambhakna, Jabar memiliki jumlah penduduk banyak, berdampak tingkat kemacetan tinggi. Semua pihak berharap agar solusi kereta api mendapat fokus serius dari pemerintah. Dia mengatakan, jangan terbuai oleh kereta cepat, tetapi bagaimana kereta api bisa terjangkau oleh semua lapisan masyarakat, hal ini akan mengatasi berbagai persoalan, salah satunya mengatasi persoalan harga minyak dunia yang terus meningkat, dan kereta api adalah solusinya.**

Baca Lainnya