Rabu, 20 September 2017 1:50

Wah... Para Tokoh Lintas Agama di Cimahi Berkumpul, Ada Apa Nih?

Ditulis Oleh Fery Bangkit 
Para tokoh agama menandatangani Deklarasi Damai di Pendopo DPRD Kota Cimahi.
Para tokoh agama menandatangani Deklarasi Damai di Pendopo DPRD Kota Cimahi. [limawaktu dok]

Cimahi - Tragedi kemanusiaan terhadap warga minoritas Rohingya di Myanmar mengundang simpati publik dari berbagai negara, tak terkecuali di Kota Cimahi, Jawa Barat, Indonesia. Sebagai bentuk simpati, pada Selasa (19/9/2017) para tokoh lintas agama di Kota Cimahi, yang tergabung dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Cimahi, 0 menggelar 'Deklarasi Damai Lintas Agama' di Pendopo DPRD Kota Cimahi, Jln. Djulaeha Karmita.

Para tokoh agama Islam, Kristen, Katolik, Budha, Hindu, dan Konghucu menggelar Deklarasi Damai dalam upaya memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa di Kota Cimahi. Acara deklarasi ini dipimpin langsung oleh ketua FKUB Kota Cimahi, Idad Sumarta, dan disaksikan Wakil Wali Kota Cimahi Sudiarto, Kapolres Cimahi AKBP Rusdy Pramana Suryanagara, Kepala Kejari Cimahi Harjo, dan Kasdim 0609/Kab. Bandung Mayor Inf Dedi Bermana Roza. Tidak hanya sekedar deklarasi, seluruh tokoh agama yang hadir saat itu menandatangani lembaran sebagai bukti peryataan sikap.

Kepala Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Cimahi, Totong Solehudin mengatakan, kegiatan ini hasil rapat Forkopinda, dimana pihaknya sangat mengkhawatirkan kerawanan-kerawanan yang timbul dimanfaatkan orang-orang yang tidak bertanggungjawab, karena tragedi Rohingya adalah tragedi kemanusiaan, bukan agama.

"Sementara 'kan ada orang yang anti stabilitas bisa saja mendorong seolah-olah ini adalah konflik antar agama. Atas dasar itu lah kita sebut kegiatan deklarasi antar agama ini untuk menjawab bahwa itu adalah tragedi kemanusiaan," bebernya.

Totong menambahkan, tidak ada dalam agama apapun yang mengajarkan kekacauan apalagi pembunuhan, baik secara etimologis maupun sosiologis. "Jika ada yang memanfaatkannya bisa jadi urusannya adalah ideologi, sosial, ekonomi budaya pertahanan maupun keamanaan. Kita akan jaga kalau ini (peristiwa Rohingya) bukan konflik antar agama," tandasnya.

Diakui Totong, jika potensi yang memanfaatkan peristiwa Rohingya dengan menimbulkan kekacauan pasti ada di Kota Cimahi. Namun dengan deteksi dini hal itu bisa segera diatasi. "Tinggal kita harus bisa mendeteksi dini, sehingga bisa diantisipasi secara dini pula. Apalagi di berita-berita hoax yang mengatakan ini seperti konflik agama. Ini yang akan kita hindari," katanya.

Sementara itu Sudiarto dalam sambutannya mengatakan, sebagai anak bangsa tentu saja kita harus ikut berperan dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. "Nilai-nilai persatuan dan kesatuan dapat kita amalkan melalui hubungan yang harmonis antar umat beragama. Dan toleransi antar umat beragama harus kita junjung tinggi," katanya.

Sudiarto melanjutkan, nilai-nilai persatuan dan kesatuan yang lainnya dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya menghormati keragaman suku dan agama. “Tidak saling mengejek dan menjelek-jelekkan salah satu suku dan agama lain. atau dengan menghargai pendapat yang berbeda-beda,” jelasnya

Sudiarto menyebutkan, perbedaan bukanlah merupakan kendala, perbedaan itu sebagai kekayaan bangsa. Perbedaan dapat kita satukan dengan semangat persatuan dan kesatuan. Dalam kesempatan tersebut Sudiarto juga mengajak kepada seluruh masyarakat yang ada di Kota Cimahi untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa, dengan ikut berpartisipasi mewujudkan kondisi yang kondusif dalam masyarakat yang dinamis dan beraneka ragam adat, budaya dan agama.

Sudiarto pun berharap kepada seluruh aparatur pemerintah Kota Cimahi, para Camat, para Lurah dan dari Forkopimda Kota Cimahi, untuk berupaya mempererat tali silaturahmi dengan tokoh-tokoh agama, pemuka-pemuka masyarakat dan para sesepuh agar dapat berdiskusi mencari solusi terhadap kondisi yang menghangat terkait isu sara.

“Sehingga masalah tersebut tidak berimbas kepada masyarakat kota Cimahi dan berlarut-larut, sehingga menimbulkan kondisi yang tidak kondusif,” tutupnya. (kit)