Kamis, 22 Februari 2018 18:31

Wacana Pemkot Cimahi Terkait TPAS Ditolak Warga Cireundeu

Reporter : Fery Bangkit 
Warga Kampung Adat Cireundeu Menabur Bunga di Lokasi Longsor.
Warga Kampung Adat Cireundeu Menabur Bunga di Lokasi Longsor. [Limawaktu]

Limawaktu.id - Wacana memanfaatkan kembali Cireundeu, Kelurahan Leuwigajah Kecamatan Cimahi Selatan Kota Cimahi sebagai Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) kembali mengemuka.

Pasalnya, Pemerintah Kota Cimahi melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) masih mempunyai niat untuk, merefungsikan kembali daerah tersebut sebagai tempat pembuangan akhir terpadu. Alasannya, lagi-lagi keterbatasan lahan.

Sekretaris DLH Kota Cimahi, Ade Ruhiyat mengatakan, dengan adanya peristiwa tersebut akan dijadikan suatu pelajaran dalam pengelolaan sampah.

"Nanti kita akan perbaiki sistem pengelolaannya. Sehingga tidak akan berdampak kepada lingkungan maupun warga," kata Ade, Kamis (2/2/2018).

Menurutnya, rencana diaktifkannya lagi pembuangan akhir sampah di Leuwigajah karena, pihaknya ingin sampah di Cimahi dikelola sebaik mungkin dengan memanfaatkan lahan yang ada.

"Lahan ini kan masih status quo, kewenangannya ada di tiga wilayah yakni Kota Cimahi, Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat," katanya.

Namun, rencana itu bertepuk sebelah tangan dengan warga Cireundeu, yang notabenya sebagai tuan rumah. Warga secara tegas menolak salah satu area di kampungnya dijadikan lagi TPAS.

Terlebih, warga sekitar masih trauma dengan peristiwa longsornya gunungan sampah yang terjadi 13 tahun silam. Mereka tak ingin peristiwa memilukan itu terulang kembali.

Panitren Kampung Adat Cireundeu Asep Abas, mengatakan, sudah cukup 20 tahun lamanya warga hidup berdampingan dengan lingkungan yang tidak sehat. Sebab, lahan seluas 70 hektar itu dikelilingi sampah.

"Intinya kami tidak ingin lagi hidup berdampingan dengan sampah," tegas Asep.

Selain lingkungan menjadi tidak sehat, lanjut dia, efek negatif lainnya adalah penilaian dari orang lain yang menganggap bahwa, Kampung Adat Cireundeu identik sebagai tempat sampah.

"Selama 20 tahun, kami merasa seperti tidak memiliki jatidiri karena, kampung ini dikenal dengan tempat pembuangan sampah," ujarnya.

Bahkan, selama itu pula warga harus direpotkan ketika mereka hendak bepergian keluar rumah. Bagaimana tidak, aroma sampah yang melekat di tubuh maupun pakaian, menjadikan warga minder saat akan melakukan aktifitas di luar kampung seperti, sekolah maupun bekerja.

"Dulu kalau mau ke kota harus bawa baju dua. Karena bau sampahnya nempel. Kalau tidak bawa baju ganti, orang lain disekitar kita pasti mencium bau tidak sedap," ungkapnya.

Ia menilai, longsornya TPAS Leuwigajah itu akibat ulah manusia yang tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Ditambah lagi, sistem pengelolaan yang tidak benar.

"Sampah terus ditumpuk tanpa mengingat dampak apa yang akan terjadi di lingkungan sekitar. Apakah peristiwa itu belum cukup untuk menyadarkan manusia," tandasnya.