Kamis, 21 Desember 2017 11:09

Utusan Raja dan Sultan Nusantara Bertasbih Di Jatigede Sumedang

Reporter : Jumadi Kusuma
Tokoh-tokoh adat kabuyutan Sumedang, perwakilan dari Kemendagri, Kementrian PU, Kemenhan Republik Indonesia, ketua lembaga adat, raja dan sultan se-Nusantara usai bertasbih di Jatigede
Tokoh-tokoh adat kabuyutan Sumedang, perwakilan dari Kemendagri, Kementrian PU, Kemenhan Republik Indonesia, ketua lembaga adat, raja dan sultan se-Nusantara usai bertasbih di Jatigede [limawaktu]

Limawaktu.id,- Situs-situs bersejarah diantaranya situs Prabu Guru Aji Putih leluhur Sumedang di kawasan Jatigede Kecamatan Dharmaraja Kabupaten Sumedang yang kini telah disulap menjadi Waduk Jatigede, menyisakan kenangan yang teramat dalam dan rasa kehilangan jejak karuhun terutama bagi masyarakat adat Sumedanglarang. 

Ketua Majelis Adat Kerajaan Sumedanglarang, Susane Febriyati Soeriakartalegawa, S.H. dalam siaran pers yang diterima limawaktu,id menuturkan, "Hilangnya jejak leluhur dan situs-situs yang berada di wilayah Waduk Jatigede menimbulkan rasa kehilangan yang teramat dalam dan penolakan akan keadaan tersebut bagi masyarakat adat yang sangat menjaga dan mempertahankan nilai- nilai sejarah jejak leluhur,” terangnya, Kamis (21/12). 

Lebih lanjut Susane yang juga Ketua LBH Sumedanglarang menyatakan, eksistensi kekayaan dan keragaman budaya menjadi tolok ukur derajat suatu bangsa,"Pengakuan seni budaya milik Indonesia oleh negara lain adalah akibat dari ketidakmampuan kita untuk menjaga secara aman kepemilikan identitas budaya tersebut dan tentunya hal tersebut sangat mengusik harga diri Bangsa Indonesia," katanya. 

Seiring dengan momentum peringatan Hari Bela Negara, Majelis Adat Kerajaan Sumedanglarang bekerjasama dengan LBH Sumedanglarang dan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Aksi Bela Negara Republik Indonesia, mengadakan kegiatan JATIGEDE BERTASBIH yang bertempat di Lapangan Desa Sukaratu Kecamatan Dharmaraja Kabupaten Sumedang, Rabu (20/12/17) kemarin.

Hadir dalam acara tersebut tokoh-tokoh adat kabuyutan Sumedang, perwakilan dari Kemendagri, Kementrian PU, Kemenhan Republik Indonesia, ketua lembaga adat, raja dan sultan se-Nusantara diantaranya Sultan Suryo Alam Joyokusumo, Sultan Demak, Ambo Dalle Puang Arung Kahe'rang, Kerajaan Tondong Sinjai Sulawesi Selatan, Dinas Pariwisata dan Balai Cagar Budaya dan Nilai-Nilai Sejarah Provinsi Jawa Barat, Polres dan Kodim, Kesbangpol serta Perhutani Kabupaten Sumedang.

"Alhamdulillah, acara berjalan lancar dan terbangun komitmen bersama akan pentingnya kesadaran adat dan budaya nasional sebagai identitas bangsa dan hak asal usul, semoga dengan apa yang di lakukan ini menjadi sebuah pondasi untuk menguatkan, merekatkan, dan mempertegas implementasi ajaran Sunda, silih asih, silih asah dan silih asuh", harapnya. (jk)