Kamis, 7 Februari 2019 14:05

Truk Pengangkut Sampah Rusak, Sampah Menumpuk di Pasar Atas Baru

Reporter : Fery Bangkit 
Petugas Kebersihan Mengangkut Sampah Yang Menumpuk.
Petugas Kebersihan Mengangkut Sampah Yang Menumpuk. [ferybangkit]

Limawaktu.id - Sampah masih menjadi kendala utama di Kota Cimahi. Pasar Atas Baru yang merupakan sentra ekonomi di wilayah Cimahi menjadi salah satu titik penghasil sampah terbanyak.

Sampah menumpuk di sana sebab dalam beberapa hari belakangan pengangkutan kurang optimal. Ini karena ada beberapa armada sampah operasional milik Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kebersihan pada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cimahi rusak. 

Baca Juga : Katanya Sudah Dibersihkan, Tapi Sampah Domestik itu Masih Mengambang di Sungai Cicurug Cimahi

"Sampahnya numpuk dari kemarin," ujar Entin Supartini (59), salah seorang pedagang Pasar Atas.

Kepala DLH Kota Cimahi, Mochamad Ronny mengakui, ada empat unit truk pengangkut sampah yang rusak. Dua di antaranya memang sudah tua, sementara dua unit lainnya rusak saat menurunkan sampah di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Sarimukti, Kabupaten Bandung Barat.

Baca Juga : Selain Kurang TPS, Prilaku Masyarakat pun Berperan Atas Menumpuknya Sampah di Aliran Sungai Curug

"Jadi ada 4 (empat) armada yang rusak. 2 (dua) memang udah uzur dari tahun 2002, sisanya hidroliknya rusak waktu truk terpeleset di Sarumukti. Jadi landasan TPS gak kokoh sehingga ban tergelincir. Saat mau ngangkat rusak," jelas Ronny. 

Dikatakan Ronny, adanya kerusakan armada itu otomatis berdampak terhadap pengangkutan sampah dari Kota Cimahi ke TPAS Sarimukti. Sebab, jumlah yang awalnya rutin mengangkut sampah sebanyak 35 unit, berkurang menjadi 31 unit.

Baca Juga : Melesat Hingga Rp 25 M, Pemkot Berharap Tuah Ridwan Kamil Soal Legok Nangka

"Jangankan 4 (empat), 1 (satu) unit yang rusak aja berpengaruh," katanya.

Solusinya, lanjut Ronny, pihaknya harus mengatur ulang jadwal pengiriman sampah. Seperti pengangkutan sampah hingga malam. "Sekarang nambah ritase sekarang. 50 rit per hari. Ada juga armada yang sampe malam. Jadi sopir itu nginep di Sarimukti nunggu dibuka TPS baru diturunkan sampahnya," jelasnya.

Dengan adanya penambahan jam kerja itu, jelas ada penambahan biaya operasional pengangkatan sampah. Seperti untuk membayar upah sopir dan kondektur serta pembelian Bahan Bakar Minyak (BBM).

Secara keseluruhan, ungkap Ronny, volume sampah yang dihasilkan dari warga Kota Cimahi mencapai 300 ton. Tapi, yang baru terangkut ke TPAS Sarimukti per harinya hanya sekitar 200 ton.

"Artinya, ada sekitar 100 ton yang belum terkelola (terangkut). Target tahun sekarang pelayanan sampah itu sudah terangkut 90 persen," tandasnya. 

Baca Lainnya