Senin, 28 Januari 2019 17:42

Terus Mengelak, Sekda Jabar Disebut tak Kooperatif dalam Persidangan Kasus Meikarta

Reporter : Fery Bangkit 
Iwa saat Persidangan Kasus Dugaan Suap Proyek Izin Meikarta Di Pengadilan Tipikor Pengadilan Negeri (PN) Klas 1A Khusus Bandung, Jalan RE Martadinata, Senin (28/1/2019).
Iwa saat Persidangan Kasus Dugaan Suap Proyek Izin Meikarta Di Pengadilan Tipikor Pengadilan Negeri (PN) Klas 1A Khusus Bandung, Jalan RE Martadinata, Senin (28/1/2019). [ferybangkit]

Limawaktu.id - Majelis Hakim Tipikor Pengadilan Negeri (PN) Bandung menilai, Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Barat, Iwa Karniwa kurang kooperatif dalam memberikan kesaksian.

Selain membantah soal permintaan Rp 1 miliar, Iwa pun membantah pernyataannya dalam Berita Aacara Penerimaan (BAP) penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Baca Juga : Muluskan RDTR Meikarta, Iwa Karniwa Disebut Minta Rp 1 M

Dalam persidangan di Pengadilan Tipikor pada PN Klas 1A Khusus Bandung, Jalan RE Martadinata, Senin (28/1/2019), Iwa dicecar pertanyaan soal permintaan Rp 1 miliar, dan pertemuannya dengan Neneng Rahmi cs di KM 72 Tol Purbaleunyi, dan di ruang kerjanya. 

JPU KPK Yadyn menanyakan soal adanya tawaran dari Waras, setelah adanya pertemuan di KM 72 Tol Purbaleunyi. Apakah benar jika nanti rekomendasi RDTR keluar akan diberikan bantuan banner.

Baca Juga : Disebut Terima Duit Rp 1 M, Sekda Jabar jadi Saksi Sidang Meikarta 

"Iya, tapi saya tidak pernah meminta," jawab Iwa.

"Apakah ada pemberian banner?" kembali Yadyn bertanya.

Baca Juga : Ditanya Duit Rp 1 M untuk Izin Meikarta, ini Jawaban Sekda Jabar

"Tidak (pemberian banner)," tegas Iwa.

Yadyn pun kemudian membacakan BAP Iwa Karniwa saat diperiksa sebagai saksi di KPK. Dalam BAP tersebut, Iwa mengatakan jika banner tersebut sebagai promosi dirinya untuk menjadi calon Gubernur (Cagub) Jabar di PDIP pada November 2018.

"Desember banner itu sudah dipasang. Anda bilang, ya sudah kalau begitu mah terimakasih. Padahal saya tidak bisa membantu. Yang saya ketahui pemberian banner itu terkait RDTR," sebut Yadyn membacakan BAP Iwa.

"BAP benar (ditandatangani). Saya baca, tapi terakhir saya buru-buru. Karena saya tidak pernah meminta dan menerima," ujarnya.

Iwa pun menegaskan dirinya tidak pernah meminta banner dan menyebutkan akan mencalonkan diri jadi Balongub saat pertemuan. Begitu juga soal adanya titipan untuknya dari Sualeman anggota DPRD Bekasi. 

Anggota majelis Tardi mengatakan dua orang saksi, yakni Neneng Rahmi dan Henry Lincoln menyebutkan jika Iwa meminta Rp 1 M. Iwa pun membantahnya. 

"Nanti dibuktikan kembali setelah konfrontir. Jangan sampai bapak bilang gak nerima. Tapi kan perlu dibuktikan," ujarnya.

Hakim pun lantas memerintahkan JPU KPK untuk menghadirkan saksi Neneng Rahmi dan Henry Lincoln untuk dikonfrontir pada sidang selajutnya, yakni Senin (4/2/2019). 

Hakim lainnya, Lindawati menyebutkan jika pernyataan saksi (Iwa) tidak konsisten. Selain itu, dua saksi menyebutkan jika dirinya meminta Rp 1 miliar.

"Saya hanya ingatkan. Dua saksi mengatakan anda meminta Ep 1 miliar," ujarnya

"Yang jelas saya tidak. Saya tidak pernah meminta dan menerima," ujar Iwa.

Baca Lainnya