Kamis, 25 Oktober 2018 14:52

Tangisan Pelaku Penganiaya Suporter Persija Usai Divonis 3 Tahun Penjara

Reporter : Fery Bangkit 
Sidang Putusan Kasus Penganiayaan Yang Menewaskan Suporter The Jakmania Haringga Sirla, Di Pengadilan Anak Pada PN Kelas 1A Khusus Bandung, Jalan RE Martadinata, Kamis (25/10/2018).
Sidang Putusan Kasus Penganiayaan Yang Menewaskan Suporter The Jakmania Haringga Sirla, Di Pengadilan Anak Pada PN Kelas 1A Khusus Bandung, Jalan RE Martadinata, Kamis (25/10/2018). [Fery Bangkit/Limawaktu]

Limawaktu.id, Bandung - DN (16), salah satu pelaku penganiaya suporter Persija Jakarta Haringga Sirla tak kuasa menahan tangis saat hakim tunggal Pengadilan Anak menjatuhkan hukuman penjara selama tiga tahun. Kuasa hukum DN pun mengaku akan berkoordinasi dengan pelaku dan keluarga, apakah banding atau tidak.

Hal itu terungkap dalam sidang putusan pengeroyokan yang menewaskan Suporter Jakmania Haringga Sirla, dengan terdakwa anak di bawah umur ST dan DN. Sidang berlangsung di ruang anak PN Bandung, Jalan RE Martadinata, Kamis (25/10/2018).

Baca Juga : Dua Pelaku Pengeroyok The Jak Mania Minta tak Dipenjara

Usai hakim menjatuhkan vonis dan memerintahkan agar DN tetap ditahan, DN yang duduk di kursi terdakwa pun langsung menangis. Tak hanya DN, sang ibu yang ikut menghadiri persidangan langsung merangkulnya dan ikut menangis. Usai persidangan ditutup, DN pun langsung dibawa oleh penjaga tahanan ke ruang tahanan.

Sementara itu kuasa hukum DN dan ST, Dadang Sukmawijaya mengaku sengaja mengambil sikap pikir-pikir dan akan berkoordinasi dulu dengan kedua pelaku anak dan orangtuanya. 

Baca Juga : Ini Hukuman Buat Dua Pelaku Penganiaya Suporter Persija Jakarta

"Kami akan berkoordinasi dulu dengan keluarga, dengan anak-anak sudah. Apakah banding atau tidak, waktu tujuh hari akan kami manfaatkan untuk pikir-pikir," katanya.

Meskipun putusannya kedua pelaku anak tetap ditahan, Dadang mengaku menghormati keputusan hakim. Namun, Dadang mempunyai pertimbangan lain. Yakni saat kejadian sifatnya spontanitas, mereka (anak-anak) berada di stadion melihat insiden pengeroyokan dan terbawa emosi. 

"Kami akan terus perjuangkan agar anak diarahkan ke arah (hukuman) paling tepat, penjara bukan upaya terakhir. Tapi ada upaya lain yang lebih bijaksana, misalkan di pesantren kan, itu lebih mendidik," ujarnya.

Di samping itu, lanjutnya, selama persidangan anak pun mengakui perbuatannya dan menyesalinya, serta tidak ada penyangkalan. Untuk itu, waktu tujuh hari yang diberikan hakim akan dimanfaatkan.

Baca Lainnya