Senin, 25 Maret 2019 19:40

Sulit Bangun Kolam Retensi, ini Arahan Pemkot Cimahi Bagi Pengembang Perumahan di Kampung Adat Cireundeu

Reporter : Fery Bangkit 
Proyek Perumahan di Kampung Adat Cireundeu
Proyek Perumahan di Kampung Adat Cireundeu [ferybangkit]

Limawaktu.id - Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi menegaskan, pihak pengembang harus membuat delapan sumur resapan di area proyek perumahan Griya Asri Cireundeu.

Sumur-sumur resapan itu berfungsi untuk menampung aliran air jika hujan turun. Jika tidak ada sumur resapan, ancaman terbesarnya adalah banjir dan longsor akan terjadi di area proyek yang terletak di Kp. Adat Cireundeu, Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi itu.

Baca Juga : Longsoran Proyek Perumahan Hantui Warga Kampung Adat Cireundeu

Kepala Seksi Drainase pada Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman (DPKP) Kota Cimahi, Sambas Subagja mengatakan, jumlah minimal sumur resapan itu berdasarkan hasil kajian yang sudah dibuat. Minimal ke dalamannya adalah 8 meter.

"Jika kedalaman sumur resapan yang dibuat kurang dari 8 meter, hal tersebut bisa memicu terjadinya longsor atau sliding tanah mengingat lapisan tanahnya berkarakter tanah lempung," jelasnya saat ditemui di Pemkot Cimahi, Jln. Rd. Hardjakusumah, Senin (25/3/2019).

Baca Juga : Belum ada TPT, Ajay Larang Pembangunan Perumahan di Cireundeu Dilanjutkan

Dikatakannya, ada opsi lain selain membuat delapan sumur resapan. Yakni pengembang harus membuat sumur resapan raksasa. "Jadi teknisnya nanti akan dipasang pipa untuk mengalirkan air ke sumur resapan. Tapi yang kita tekankan itu pretreatmentnya, karena itu air hujan jadi mesti ada penyaringan dulu karena nanti dimanfaatkan juga sebagai sumber air bersih warga sekitar," jelasnya 

Berdasarkan Permen PU Nomor 26 tentang drainase, di titik terendah juga wajib dibuat kolam retensi. Namun di kawasan perumahan tersebut tidak memungkinkan dibuat mengingat luas lahannya terbatas. Pembuatan sumur resapan itu salah satu pilihan, mengingat kecil kemungkinan untuk dibuat kolam retensi.

Baca Juga : Surat Teguran Diacuhkan, Pengembang Perumahan Cireundeu Lari dari Tanggung Jawab?

"Alternatifnya membuat banyak sumur resapan dengan kedalaman lebih dari 8 meter untuk mengantisipasi longsor dan banjir runoff air. Tujuannya kan memang memininalisir potensi bencana karena larian air yang berlebihan," tegasnya.

Selanjutnya, Sambas mengingatkan kembali agar pihak pengembang segera membuat Dinding Penahan Tanah (DPT) menghindari longsor ulangan ke area pemukiman warga.

Menurut Sambas, seharusnya DPT, saluran air, kirmir, maupun sumur resapan sudah selesai dibuat sebelum pembangunan rumah dimulai. Sebab, berdasarkan kajian geologi, karena struktur lahan perumahan ada di perbuktian maka dikhawatirkan dampak longsor seperti yang terjadi sebelumnya bisa terulang lagi.

"Rekomendasi dari tim yang terdiri dari DLH, DPKP, Dinas PUPR, dan dinas terkait lainnya, pengembang wajib mengamankan dulu daerah lereng karena disitu titik bahayanya. Wajib dibuat dulu dinding penahan tanah sebelum dibuka dan dibangun perumahan," ungkapnya.

Berdasarkan arahan dari Dinas Lingkungan Hidup dalam dokumen lingkungan, perumahan tersebut didesain zero runoff (nol larian air). 
Penerapan zero runoff bisa dilakukan jika pengembang sudah membuat sumur resapan dengan kedalaman minimal 8 meter sehingga air hujannya bisa masuk kr lapisan akuifer tanah.

Baca Lainnya