Limawaktu.id - Gagal panen harus dialami Rohaeni (65), petani asal Kampung Langkob, Desa Ciburuy, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Lahan sawah 4 hektare yang digarapnya tak terpanen sama sekali. Menurut Rohaeni, kegagalan panen ini disebabkan revitalisasi Situ Ciburuy yang tidak ramah bagi pesawahan warga. Sebab, imbas dari revitalisasi itu saat ini krisis air akibat dilanda kekeringan sepanjang musim kemarau tidak lagi mengalirkan air ke areal pesawahan warga.
"Karena Situ Ciburuy airnya kering, ya, jadi sawahnya juga kekeringan," kata Eni saat ditemui di Kp. Langkob, Kamis (12/9/2019). Menurutnya, sulitnya sumber air untuk areal pesawahan sudah terjadi sedari bulan April 2019 lalu. Aliran air dari Situ Ciburuy tidak lagi mengalir akibat surutnya air di danau yang sudah ada sedari tahun 1918 tersebut.
"Gak ada lagi (sumber air) lainnya, cuma dari Situ aja," ucapnya. Akibat dilanda kesulitan pasokan sumber air, dia menyebutkan, para petani mengalami kerugian bervariasi mulai dari Rp 4 juta sampai Rp 6 juta tergantung luas lahan sawahnya. "Kerugian itu baru modalnya saja, belum ditambah kerugian beli pupuk dan obat," ujarnya.
Dijelaskan Eni, Kegagalan panen di tahun 2019 ini sudah kali kedua setelah sebelumnya sawah para petani gagal panen akibat diserang hama. Kini, padi yang ditanam April 2019 lalu dan seharusnya bisa dipanen pada bulan September 2019 ini pun turut gagal akibat sawah tidak teraliri air. "Tahun ini sawah gagal panen semua, petani gak ada pemasukan karena gak ada penghasilan dari sawah," keluhnya.
Sementara petani lainnya, Edi Bin Enjum menyampaikan, tidak adanya sumber air untuk pesawahan merupakan imbas dari rencana Pemerintahan Provinsi Jawa Barat periode politik 2018-2023 yang hendak merevitalisasi Situ Ciburuy. Pada saat pengerjaan pembangunan, sambung dia, pintu air di Kampung Sadang ditinggikan sehingga tidak sedikit pun air dari Situ Ciburuy mengalir ke areal pesawahan warga.
"Kita senang Situ Ciburuy ini dibangun. Kita pernah komplen supaya pintu airnya jangan terlalu tinggi tapi tidak ditanggapi," ungkapnya. Akibat padi yang ditanamnya mengalami kegagalan panen, bapak tujuh anak ini membeberkan, terpaksa mengais rezeki dari memungut barang-barang bekas dan mencari kayu bakar dengan penghasilan Rp 8 ribu sampai Rp 10 ribu perharinya.
"Tadinya (padi yang ditanam) ini buat makan sehari-hari tapi sekarang terpaksa nyari rongsokan sama nyari kayu bakar, ya, hasilnya dipas-pasin aja," imbuhnya. Edi berharap, pemerintah membuka mata dan memberikan solusi terhadap persoalan yang dihadapi para petani di Kp. Langkob."Ya, mudah-mudahan ada bantuan, karena untuk daerah lain ada bantuan seperti bibit, pupuk, maupun alat pertanian tapi ke kampung ini mah gak pernah ada," tandasnya.