Minggu, 17 Desember 2017 22:31

Simak Penjelasan Dinkes Cimahi Soal Bahaya Difteri dan Pencegahannya

Reporter : Fery Bangkit 
Pegawai Dinkes Cimahi melaksanakan sosialisasi tentang difteri di Jalan Rd. Hardjakusumah, Minggu (17/12/2017)
Pegawai Dinkes Cimahi melaksanakan sosialisasi tentang difteri di Jalan Rd. Hardjakusumah, Minggu (17/12/2017) [limawaktu]

Limawaktu.id, - Belakangan ini, kasus difteri menjadi penyakit yang ditakutkan masyarakat Indonesia. Bahkan, di Jawa Barat, status penyakit tersebut ditetapkan menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB).

Pasalnya, hingga pekan kedua Desember 2017, kasus difteri di Jawa Barat mencapai 154. 14 di antaranya meninggal dunia. Di Kota Cimahi, meski belum ada kejadian, namun Dinas Kesehatan Kota Cimahi tetap waspada.

Lalu, apa sebenarnya difteri?

Difteri adalah penyakit infeksi akut menular, yang disebabkan oleh Corynebacterium Diphtheriae. Penyakit tersebut ditandai dengan pembentukan pseudomembran pada permukaan mukosa atau kulit.

"Penyakit difteri sangat berbahaya, dapat menyebabkan kompilkasi berat, sehingga menimbulkan kematian," ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Cimahi, drg. Pratiwi saat ditemui disela-sela sosialisasi tentang difteri di Jalan Rd. Hardjakusumah, Minggu (17/12/2017).

Ia menjelaskan, gejala atau ciri-ciri orang yang terindikasi positif difteri itu hampir mirip dengan Infkeksi Saluran Pernapasan (ISPA) sampai toksemia berat.

Seperti mengalami demam ringan hingga 38'C, sakit saat menelan makanan, sakit tenggorokan, ada selaput putih keabu-abuan pada tenggorokan, leher membengkak seperti leher sapi (bullneck), sesak nafas disertai bunyi dan suara serak.

"Dampak dari difteri itu tersumbatnya saluran pernapasan dan gagal jantung," terang Pratiwi.

Cara penularan difteri pun cukup mudah. Kontak langsung dengan penderita maupun karier, yaitu melalui droplet (batuk, bersin, berbicara) serta kontak langsung mukosa atau kulit yang tidak utuh atau luka.

Dikatakan Pratiwi, difteri bisa mengani siapa saja, khususnya anak-anak. Pasalnya, anak-anak memiliki daya tahan tubuh yang rendah.

"Apalagi anak-anak yang tidak diimunisasi lengkap," ucapnya.

Kemudian, apakah difteri dapat disembuhkan?

Pratiwi menjelaskan, difteri dapat disembuhkan apabila orang yang terjangkit tidak terlambat dalam mendapatakn pertolongan. Pertolongan pertama terhadap orang yang terkena difteri ialah dengan cara mendatangi pelayanan kesehatan, seperti Puskesmas, segera melaporkan ke Dinas Kesehatan setempat serta melaksanakan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Khusus bayi usia 0-10 bulan pencegahannya dengan mendapatkan tiga dosis imunisasi dasar DPT-BH pada usia 2, 3 dan 4 bulan. Kemudian dilanjutkan dengan satu dosis DPT-HB-Hib pada usia 18 bulan.

Selanjutnya, bagi anak sekolah dasar/sederajat kelas I, wajib mendapatkan satu dosis imunisasi DT. Anak sekolah dasar kelas II dan IV wajib mendapatkan imunisasi Td.

"Kemudian, untuk usia dewasa, bila merasakan gejala difteri, diharapkan datang langsung ke Puskesmas dan klinik dokter," tandas Pratiwi. (kit)

Baca Lainnya