Rabu, 21 Maret 2018 19:53

Sewindu KPI: Karena Ketamakan, Hutan Indonesia Rusak

Reporter : Jumadi Kusuma
Komunitas Pohon Indonesia (KPI) memperingati Hari Hutan Sedunia digelar di D'Peak Bongkor Desa Melatiwangi Cilengkrang Kabupaten Bandung, Rabu (21/3/18).
Komunitas Pohon Indonesia (KPI) memperingati Hari Hutan Sedunia digelar di D'Peak Bongkor Desa Melatiwangi Cilengkrang Kabupaten Bandung, Rabu (21/3/18). [Limawaktu]

Limawaktu.id,- Sewindu sudah komunitas pohon Indonesia (KPI) yang berdiri di Bandung pada awal Juni 2009 lalu, bersamaan dengan momentum Hari hutan Internasional yang jatuh pada 21 Maret. Dengan tema 21 Alasan - Pentingnya Hutan Bagi Kehidupan, peringatan Hari Hutan Sedunia digelar di D'Peak Bongkor Desa Melatiwangi Cilengkrang Kabupaten Bandung, Rabu (21/3/18).

Ketua Umum Pengurus Pusat KPI, Dadi Ardiwinata menuturkan bahwa bersyukur dan menikmati merupakan salah satu latarbelakang berdirinya KPI, karena Indonesia diberi anugerah yang begitu besar oleh Allah SWT dengan alamnya yang indah dan subur serta banyak memiliki potensi bagi kesejahteraan masyarakatnya dibanding negara lain.

“Nikmat dan anugerah yang diberikan Sang Pencipta, Allah SWT kepada alam Indonesia bukan main besarnya. Lihatlah, bahwa negara kita yang tercinta ini memiliki kelebihan dalam berbagai hal dibanding negara lainnya di dunia. Seperti kesuburan tanah yang dapat ditanami pohon dan beranekaragam hayati lain yang berlimpah untuk ketahanan pangan,” katanya yang akrab disapa Kang Dadi ini.

Sangat miris, lanjut Dadi, yang banyak kita lihat dan muncul kepermukaan adalah bermunculan segelintir individu-individu dan kelompok yang tamak dan cenderung merusak keberadaan alam dan hutan Indonesia.

“Hal ini dapat dilihat, terjadi pembalakan hutan dimana-mana, pengrusakan lingkungan yang tadinya asri tanpa berpikir untuk mengembalikannya seperti semula. Merusak ekosistem dari hutan itu sendiri dengan hadirnya berbagai kegiatan pertambangan,”ucapnya.

KPI yang dipimpinnya melihat dan menilai, masyarakat sekitar banyak yang menjadi penonton dan korban. Tapi ada juga diantaranya yang nekat, ikut-ikutan melakukan pembalakan hutan, mengeksploitasi berbagai potensi tambang dengan cara liar yang merusak kepada lingkungan itu sendiri.

”Melihat kenyataan seperti ini, KPI mencoba melakukan kegiatan nyata dengan usaha mengajak masyarakat untuk menanam pohon dengan berbagai aspeknya,” ujar Dadi.

Dadi mengatakan pohon itu memiliki arti yang sangat penting, maka masyarakat perlu diajak untuk menanam pohon.

“Kita tahu, selama ini keberadaan dan manfaat pohon hanya dinikmati segelintir pihak tanpa memperhatikan kesejahteraan masyarakat sekitar pohon itu berada, untuk itu lah KPI hadir dengan membentuk komunitas,” jelasnya.

Dadi menambahkan, paling tidak posisi KPI tidak merusak dan lebih menekankan posisi untuk beribadah. Artinya, dalam melihat keberadaan hutan pihaknya tidak semata-mata melihat hutan lestari selamanya. Karena secara alamiah pohon yang menaungi hutan itu juga akan punah dan secara alamiah juga akan tumbuh yang baru.

Tapi ketika melihat kepada posisi keberadaan hutan itu hancur karena ulah perbuatan manusia yang tidak bertanggungjawab, maka dalam hal ini KPI melakukan gerakan yang nyata yaitu dengan mengajak berbagai pihak untuk melakukan penanaman pohon kembali dengan mengajak dari lingkungan sendiri.

Baca Lainnya