Selasa, 13 November 2018 15:16

Sepekan Menjabat, Asisten II Bongkar Masalah Serapan Anggaran Kota Cimahi

Reporter : Fery Bangkit 
Pembangunan Pasar Atas Barokah (PAB).
Pembangunan Pasar Atas Barokah (PAB). [Fery Bangkit/Limawaktu]

Limawaktu.id, Cimahi - Serapan anggaran hingga Triwulan III di Kota Cimahi baru mencapai 59,4%. Angka itu akan terus mengalami perubahan mengingat proyek dan program masih terus berjalan.

"Untuk penyerapan anggaran sampai Triwulan III sudah 59,4 persen. Realisasi keuangan 60 persen, fisik 53 persen," ungkap Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Kota Cimahi, Dikdik Suratno Nugrahawan saat ditemui di Pemkot Cimahi, Jln. Rd. Hardjakusumah, Selasa (13/11/2018).

Dikatakannya, Pemkot Cimahi tetap menargetkan serapan anggaran tahun ini bisa maksimal mencapai 100%. Sebab, diakhir tahun akan terjadi lonjatakan capaian realisasi. "Karena biasanya akhir tahun ini dalam proses finalisasi pekerjaan, kemudian ada pembayaran kewajiban pemerintah kepada pelaksana," jelas Dikdik.

Untuk itu, Dirinya meminta semua Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kota Cimahi agar menggenjot pekerjaan fisik maupun non fisiknya.

Khususnya sejumlah OPD, seperti Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR), Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman (DPKP) serta Dinas Perdagangan Koperasi UMKM dan Perindustrian (Disdagkoperind) yang memiliki banyak pekerjaan fisik.

Sebab, dari tiga unit kerja itu memiliki proyek yang cukup besar. Misalnya, PUPR dengan pekerjaan jalan, pembangunan masjid dan sebagainya, kemudian Disdagkoperind dengan mega proyek Pasar Atas Barokah serta DPKP dengan proyek pembebasan lahannya.

"Mudah-mudahan akhir tahun semua pekerjaan fisik bisa diselesaikan," ujar Dikdik.

Dikdik mengakui, pembebasan lahan masih menjadi kendala kerap tak maksimalnya serapan anggaran di Kota Cimahi. Seperti halnya tahun lalu, sejumlah pembebasan lahan yang tak terealisasi pun menjadi penyebab utama tak maksimalnya serapan anggaran.

Untuk tahun ini pun, Pemkot Cimahi rencananya akan melakukan pembebasan lahan di sejumlah lokasi. Di antaranya pembebasan lahan di Kelurahan Cigugur Tengah sekitar 4.000 meter persegi dan di Kelurahan Melong sebanyak 6.000 meter persegi.

Untuk membebaskan lahan di dua daerah itu, Pemkot Cimahi menganggarkan dana sebesar Rp 65 miliar yang dipaketkan dengan pembebasan lahan untuk pembuatan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Pembebasan lahan di di Cigugur dan Melong merupakan rencana Pemkot Cimahi untuk mengentaskan banjir.

Kemudian, ada juga pembebasan lahan pengganti Lapangan Krida yang kini beralihfungsi menjadi Gedung Technopark Cimahi. Untuk lahan penggantinya, tetap akan mengincar lahan di Kelurahan Utama dengan estimasi anggaran mencapai Rp 19 miliar.

Diakui Dikdik, pembebasan lahan ini merupakan perkara yang sulit. Terutama masalah perbedaan harga yang ditawarkan pemilik dengan harga hitungan dari aprraisal.

"Perbedaan harga pasar dengan masyarakat sangat fantasis, di luar aturan. Ini menyulitkan pelaksana untuk merealisasikan," ungkap Dikdik.

Namun, kata dia, pihaknya melalui dinas terkait akan tetap berupaya untuk merealisasikan pembebasan sesuai rencana. Tentunya dengan mengedepankan tindakan persuasif dan musyawarah bersama.

Baca Lainnya