Sabtu, 17 Februari 2018 13:48

Rumahnya Dibongkar, Nenek ini Terpaksa Tinggal di Gudang Tua Milik PT KAI

Reporter : Fery Bangkit 
Enur Romlah (65), nenek yang terpaksa harus tinggal di gudang PT KAI di Jalan Dustira Nomor 35 Kelurahan Baros Kecamatan Cimahi Tengah, Kota Cimahi.
Enur Romlah (65), nenek yang terpaksa harus tinggal di gudang PT KAI di Jalan Dustira Nomor 35 Kelurahan Baros Kecamatan Cimahi Tengah, Kota Cimahi. [Limawaktu]

Limawaktu.id,- Keterbatasan ekonomi membuat Enur Romlah (65) terpaksa harus tinggal di gudang PT kai di Jalan Dustira Nomor 35 Kelurahan Baros Kecamatan Cimahi Tengah, Kota Cimahi.

Sejak rumahnya dibongkar, 25 Agustus 1952 itu, hanya gudang yang tepat berada di samping Stasiun Cimahi itulah yang bisa ia tinggali. Untuk menghidupi ia dan satu cucunya bernama Muhammad Sopian Waldiansyah, Enur hanya mengandalkan pemberian dari para tetangga dan titipan kendaraan serta gerobak di gudang.

Baca Juga : Delapan Tahun Janda Tua Tinggal di Gudang Milik PT. KAI

Ketika ditemui di gudang yang disinggahinya, Sabtu (17/2/2018), nenek Enur tengah menjemur pakaian miliknya serta cucu tersayangnya. Seketika ia mengajak masuk ke dalam gudang yang berukuran sekitar 8x4 meter itu.
Sekilas, gudang tersebut memang tak layak untuk ditinggali. Di dalamnya, terdapat satu lembar kasur, lembaran kain selimut dan satu buah sofa tua. Semuanya sudah tampak lusuh. Di situlah ia dan cucunya merembahkan badan dan tidur setiap malamnya.

Kondisi tersebut terpaksa ia jalani. Pasalnya, untuk saat ini, ia bingung harus tinggal dimana. Apalagi, ia kini hanya tinggal berdua dengan cucu tunggalnya.

"Iya terpaksa tinggal di sini. Mau dimana lagi," tuturnya sambil menghela nafas.

Sebetulnya, Nenek Enur merupakan pendatang di Kota Cimahi. Ia merupakan warga asli Kiaracondong, Kota Bandung. Namun, sekitar tahun 1993-1994, ia pindah ke Kota Cimahi mengikuti sang suami. Suaminya sendiri sudah meninggal sembilan tahun lalu.

Ia dan suaminya membuat rumah di lahan milik PT KAI. Namun, rumah tersebut dibongkar. Ia tak bisa berbuat banyak. Sebab, memang lahan yang ia tinggali memang bukan miliknya. Akhirnya, hanya gudang itu yang bisa ia tinggali.

"Dibongkar kalau gak salah tahun 2014," ucapnya.

Setelah rumah, yang terdapat warung dibongkar, ia sempat putus harapan. Bingung harus mencari sumber rupiah dari mana. Apalagi, kondisinya yang sudah menua. Ditambah lagi, Nenek Enur harus membesarkan sang cucu sendiri.
Namun, demi cucu tercinta, ia memutuskan untuk tidak pasrah dengan kondisinya. Do'a kerap ia panjatkan, harapan pun selalu ia utarakan dalam hati. Memang Tuhan tidak pernah tidur dan selalu mendengar hambanya.
Ia bersyukur dikelilingi para tetangga yang baik. Baginya, para tetangga disekelilignya adalah malaikat. Pasalnya, setiap hari selalu saja ada warga yang peduli memberikan bantuan, baik berupa makanan maupun material.
Bahkan, tutur Nenek Enur, setiap bulannya, selalu saja ada tetangga yang memberinya uang. Selain itu, hidupnya ditopang oleh sejumlah kendaraan dan roda yang kerap dititipkan digudang yang ia tinggali.

"Ada yang ngasih Rp 50 ribu, RP 100 ribu. Kadang yang nitip motor sama roda juga ngasih Rp 25 ribu, Rp 50 ribu," ujarnya.

Tentang bantuan dari pemerintah, memang selama ini pihak RT setempat selalu mendatanya sebagai warga yang kurang mampu. Ia sudah terdaftar dalam program pemerintah, Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).

"Pemerintah ada bantuan, raskin," katanya.

Di tengah kondisi ekonominya yang pelik, Nenek Enur kini harus dihadapkan dengan permasalahan gudang PT KAI yang ia tinggali. Pasalnya, ia kini diharuskan membayar uang sewa sebesar Rp 4 juta.
Baginya, itu sangat sulit meski tidak mustahil. Ia selalu percaya ada jalan keluar dibalik kesulitan yang dialaminya. Ia akan meminta kepada PT KAI agar uang sewa tersebut tidak jadi diberlakukan untuknya.
Selain itu, Nenek bertubuh gempal itu juga mengharap bantuan dari pemerintah setempat. Ia tak ingin bermuluk untuk kondisi ekonominya saat ini. Hanya saja ia berharap ada perbaikan dari kesulitan yang dialaminya.

"Kalau ada bantuan mah seneng pisan," tuturnya.

Kisah perih Nenek Enur hanyalah satu dari sekian ribu jiwa warga yang membutuhkan uluran tangan. Mereka tak minta dikasihani, mereka hanya ingin dihargai dan ingin memiliki kehidupan yang layak.

Baca Lainnya