Sabtu, 17 Februari 2018 14:19

Rintihan Nenek dan Cucu yang Tinggal di Gudang Milik PT KAI

Reporter : Fery Bangkit 
Enur Romlah, Nenek yang tinggal di gudang di Jalan Dustira Nomor 35 Kelurahan Baros Kecamatan Cimahi Tengah, Kota Cimahi.
Enur Romlah, Nenek yang tinggal di gudang di Jalan Dustira Nomor 35 Kelurahan Baros Kecamatan Cimahi Tengah, Kota Cimahi. [Limawaktu]

Limawaktu.id,- "Saya suka sedih kalau liat tas cucu saya udah rusak, terus minta dibeliin. Liat sepatunya juga suka nangis dalam hati," itulah tuturan isi hati Enur Romlah, Nenek yang tinggal di gudang di Jalan Dustira Nomor 35 Kelurahan Baros Kecamatan Cimahi Tengah, Kota Cimahi.

Nenek berusia 65 tahun itu terpaksa tinggal di gudang milik PT KAI bersama cucu semata wayangnya bernama Muhammad Sopian Waldiansyah lantaran keterbatasan ekonomi. Rumah miliknya dulu dibongkar karena berdiri di atas lahan milik PT KAI.

Cucunya kini berusia 11 tahun, Aldi, panggilan akrabnya duduk di bangku SD Negeri Mandiri V kelas IV. Sejak kelas I SD, Aldi sudah diurus Nenek Enur. Atau tepat setelah orang tua Aldi memutuskan bercerai.

Bisa dibilang, cucunya itu merupakan korban dari perihnya perpisahan. Kedua orang tua Aldi sudah kembali memiliki pasangan masing-masing. Namun, keduanya tidak ada yang mau mengurus Aldy. Keterbatasan ekonomi lagi-lagi jadi alasan. Akhirnya, Nenek Enur yang mengurus dan membesarkan Aldi hingga sekarang.

Bagi Nenek Enur, kisah pilu yang dialaminya bukan penghalang untuk berjuang membesarkan cucunya itu. Di tengah kondisi ekonomi yang teramat sulit, ia mencoba untuk tetap tersenyum, meski hati harus merintih.

"Ibu mah gak punya penghasilan," tutur Nenek Enur saat ditemui di Gudang tempatnya tinggal, Sabtu (17/2/2018).

Memang sejak rumahnya dibongkar, mata pencahariannya pun ikut lenyap. Pasalnya, dalam rumah yang dibongkar itu, terdapat warung yang sejak tahun 1993 jadi mata pencahariannya. Ditambah lagi, kini sang suami tercinta sudah meninggal sembilan tahun silam.

Untuk menyambung hidup ia dan cucunya, termasuk untuk makan dan jajan cucunya, Nenek Enur kerap mendapat bantuan dari para tetangganya. Dalam sebulan, tutur Nenek Enur, selalu saja ada tetangganya yang memberikan uang.
"Ada yang ngasih Rp 50 ribu, RP 100 ribu," ucapnya. Selain itu, ada pula yang kerap menitipkan kendaraan dan gerobag di gudangnya. Biasanya, sang pemilik memberinya sekitar Rp 25-50 ribu per bulannya. Untung saja, cucunya itu menerima kondisinya saat ini. Berapapun uang jajan yang diberikan Nenek Enur, Aldi selalu menerimanya.

"Allhamdulilah Aldi anaknya baik, jarang ngeluh," katanya.

Duduk di atas kasur yang sudah nampak lusuh, Nenek Enur terus menceritakan kisah pilunya bersama sang cucu. Nenek Enur kerap merasa sedih tatkala melihat sepatu dan tas Aldi sudah nampak rusak. Bahkan, Aldy sesekali meminta untuk dibelikan yang baru.

Dengan sabar, Nenek Enur mengumpulkan pundi rupiah yang ia dapat dari para tetangga. Misal, ketika sudah terkumpul uang untuk membelikan tas, ia dan Aldi langsung pergi ke pasar.

"Mau tas, uangnya dikumpul-kumpul, ada Rp 80 ribu, beli ke pasar, udah gitu pulang lagi," ucap Nenek Enur.

Untuk biaya sekolah Aldi, memang untuk tingkat SD masih gratis. Sebab ada dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Selain itu, Aldi juga terdata memiliki Kartu Indonesia Pintar (KIP).

Bantuan itu memang membantu meringankan beban Nenek Enur. Dengan usia yang sudah masuk kategori lanjut, sudah tidak ada harapan lagi untuk bekerja.
Kini, ia berharap Aldi bisa sekolah setingi-tingginya, tecapai apa yang diinginkannya serta selalu menjadi anak yang jujur.

"Jadi anak pinter, bisa bawa perubahan buat Aldi," pungkasnya.

lan Dustira Nomor 35 Kelurahan Baros Kota Cimahi.