Rabu, 29 Januari 2020 12:01

Rezeki Nomplok Usaha Tali Paracord Merlin, dari Jualan Emperan Hingga Digaet Perusahaan Outdor Besar

Merlin Sukmayadin  pria berusia 36 tahun Pengusaha Tali Paracord
Merlin Sukmayadin pria berusia 36 tahun Pengusaha Tali Paracord [Fery Bangkit]

Limawaktu.id - Kenapa sih paracord belum begitu terkenal di Indonesia? Pertanyaan itu muncul dari benak Merlin Sukmayadin, pria asal Desa Tanimulya, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Berawal dari pertanyaan itu, pria berusia 36 tahun itu mulai terpikir untuk memulai usaha tali temali berbahan dasar tali parachute (paracord), bisnis yang awal hanya beromset Rp 3-4 juta, kini menjadi Rp 200 juta per bulan.

Saat ditemui di kediamannya, tempatnya di Kompleks Puri Cipageran Indah 2 Blok C8 Nomor 35 Desa Tanimulya pada Selasa (28/1/2020), pria lulusan Unikom Bandung itu menceritakan perjuangannya hingga menjadi sukses dalam bisnis tali temali.

"Kalau hobi kerajinan ini sejak kuliah, tapi waktu itu masih pakai bahan prusik. Tahun 2013 baru coba pakai bahan paracord, tapi memang belum terlalu buming bahannya," ujarnya.

Dua tahun kemudian, tepatnya tahun 2015, ayah dari dua anak itu memberanikan diri terjun ke bisnis kreasi dari bahan paracord dari mulai gelang, gantungan kunci hingga gantungan dompet.

Ia mendapat masukan dari temannya untuk menggunakan tali paracord yang harus diimpor dari luar negeri. Sebab di Indonesia belum ada perusahaan yang memproduksi bahan baku tersebut.

"Waktu itu saya belanja modalnya Rp 5 juta untuk ongkos kirim sama bahan dari China. Dapat 1 box bahan," sebut Merlin.

Awal merintis bisnis tali temali itu, Merlin berjualan di lapak terbuka atau (lapak emperan), seperti di lokasi Car Free Day (CFD) di Kota Bandung. Kemudian mulai merambah jualan online menggunakan media sosial.

"Pas jualan emperan itu, masih banyak yang nyangka bahannya prusik soalnya harganya memang beda. Saya juga aneh kok paracord belum banyak dikenal di sini," ungkapnya.

Dari hasil penjualannya, omzet yang ia hasilkan hanya sekitar Rp 3-4 juta dalam sebulan. "Kalau sekali jualan di lapak kadang Rp 200 ribu, kadang gak dapat malah jadi nombok bayar lapak. Kalau dari jualan online sekitar Rp 300 ribu sehari," beber Merlin.

Dua tahun kemudian, atau akhir tahun 2017, peruntungan mulai menaungi Merlin ketika ia mendapat pesanan secara Cash on Delivery (COD) di dekat sebuah toko perusahaan outdor Kota Bandung.

"Kalau ada yang pesen online, saya kan bikin gelang paracord itu langsung di tempat karena disesuaikan dengan ukuran pemakai. Tiba-tiba ada seseorang yang menyarankan untuk masukin penawaran ke perusahaan outdor itu," jelasnya.

Setelah memperlihatkan caranya membuat gelang dari paracord di hadapan pimpinan perusahaan outdor besar itu, akhirnya karyanya dipakai untuk menjadi pemasok (vendor). "Allhamdulilah kerajinan tangan saya dipakai," ucap Merlin.

Omzet Bisnis Paracod Meningkat Drastis

Sejak saat itulah omset yang didapatnya naik drastis dari Rp 3-4 juta per bulan menjadi Rp 200 juta per bulan. Hasil kerajinan tangannya itu diganjar hingga lima tahun kontrak menjadi vendor perusahaan outdor besar.

Untuk bahan baku paracordnya, Merlin masih masih mengandalkan impor dari China sebulan sekali. Setiap belanja, tali paracord yang datang bisa mencapai 15 koli.

Dari 15 koli paracord itu, diperkirakan dalam sebulannya bisa menghasilkan 10 ribu pcs berbagai macam dari mulai gelang, gantungan kunci, gantungan dompet dan sebagainya.

"Kalau gelang itu kisaran 2-3 meter untuk 1 pcs-nya. Kalau gantungan kunci 1-1,5 meter. Tergantung model juga," terangnya.

Alat yang digunakan Merlin dan kelima pekerjanya untuk menganyam tali paracord itu menggunakan jig, jarum dan gunting. Dari alat itu bisa dibuat berbagai seni menganyam tali dari mulia Cobra, Sanctified Covenant hingga Honeybee. 

Baca Lainnya