Senin, 25 Maret 2019 18:52

Puluhan Pasutri di Desa Suntenjaya, KBB Belum Punya Surat Nikah

Reporter : Fery Bangkit 
Acara sidang isbat, Senin (25/3/2019).
Acara sidang isbat, Senin (25/3/2019). [ferybangkit]

Limawaktu.id - Sejak menikah 31 tahun silam, Pasangan Suami Istri (pasutri), Nunu (55) dan Lilis Hayati (47) mengaku belum memiliki buku nikah

Desa Suntenjaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) itu menikah 23 Juli 1988. Saat itu, pernikahan keduanya digelar secara sederhana.

"Saya masih ingat, dulu menikah pada 23 Juli 1988. Saya cuma nikah secara adat biasa," kata Nunun, dalam acara sidang isbat, Senin (25/3/2019). 

Dulu, kata Nunu, ia dan istri memang pernah mengajukan buku nikah yang harus ditebus Rp 15.000 ke lebe (penghulu). "Sudah ditebus, tapi lebe-nya meninggal dunia. Sampai sekarang, enggak jadi-jadi lagi buat mengurusnya," katanya.

Meski tidak memiliki buku nikah, Nunu mengaku tidak mengalami kendala apapun. Selain karena tinggal di kampung, kondisi pada zaman dahulu berbeda dengan sekarang, di mana pengurusan administrasi sudah lebih saklek.

"Dulu kan enggak seperti sekarang, satu syarat saja enggak ada ya enggak bisa bikin surat-surat. Sekarang kan buat motor saja harus ada suratnya, apalagi orang. Kalau enggak punya buku nikah, sekarang buat kredit juga susah," kata bapak dari dua anak dan kakek dari dua cucu itu.

Nunu dan Lilis bukan Pasutri satu-satunya di Desa Suntenjaya yang belum memiliki buku nikah. Sebab, masih ada puluhan Pasutri lainnya yang memiliki nasib serupa. Oleh karena itu, dalam waktu dekat mereka akan menjalani sidang isbat. 

Demikian disampaikan Kepala Desa Suntenjaya Asep Wahono di kantornya, Senin (25/3/2019). Menurut dia, ada sejumlah faktor yang membuat banyak pasutri di desanya tidak memiliki buku nikah. Kebanyakan pasutri itu pun, kata dia, menikahnya bukan sekarang-sekarang ini.

"Ada yang buku nikahnya hilang, terbakar, nikah siri, dan ada juga yang memang kurang persyaratan administrasinya. Dulu itu kan yang penting nikah saja dulu. Biasanya karena kekurangan dana, jadi belum mengurus surat nikah," jelasnya.

Oleh karena itu, Pemerintah Desa Suntenjaya berencana memfasilitasi penyelenggaraan sidang isbat. Apalagi, di Suntenjaya terdapat donatur yang bersedia membantu warga untuk membiayai proses kepemilikan buku nikah. 

"Jadi ada donatur yang mau membantu 37 pasangan supaya punya surat nikah baru. Pemerintah desa juga akan memfasilitasi sidang isbat masal lagi. Rencana Agustus mendatang, sekalian dengan milangkala desa. Soalnya, mungkin ada sekitar 50 pasang lagi yang belum punya surat nikah," bebernya.

Asep menambahkan, kepemilikan buku nikah cukup penting bagi masyarakat, karena dapat menjadi salah satu syarat administrasi buat pengurusan berbagai hal. "Kalau enggak punya, bisa menghambat pembuatan administasi kependudukan. Buat jual beli tanah juga terhambat. Buat naik haji sudah jelas," tandasnya.

Baca Lainnya