Pendakwah muda Habib Jafar (Husein Ja’far Al Hadar)
Pendakwah muda Habib Jafar (Husein Ja’far Al Hadar) [Foto : instagram]
News

Proses di Keluarga Membuat Habib Jafar Lebih Moderat

Limawaktu.id, Jakarta - Pendakwah muda Habib Jafar (Husein Ja’far Al Hadar) percaya, sikap Moderat dan toleran tidak lahir begitu saja. Ada proses panjang yang membentuknya—dimulai dari rumah, sejak ia masih kecil.

Ia tumbuh di lingkungan keluarga yang terbuka, di mana agama tidak diajarkan secara kaku, melainkan berdampingan dengan cara berpikir rasional. Bagi Habib Jafar, itulah fondasi penting yang membuatnya bisa memahami perbedaan tanpa merasa terancam.

“Dalam kesehariannya, saya terbiasa diajak berdiskusi, bahkan tentang hal-hal yang mungkin jarang dibicarakan di keluarga lain, seperti filsafat. Dari situlah saya  belajar bahwa iman dan akal bukan dua hal yang bertentangan, melainkan saling menguatkan,” ungkap Jafar, di program Rosi Kompas TV.

Menurutnya, satu pesan sederhana dari sang ayah terus ia ingat hingga sekarang—pesan yang mungkin terdengar lugas, tapi sangat membekas.

“Simple kata ayah saya, orang bodoh ngerepotin. Ngerepotin diri kita sendiri dan ngerepotin orang lain,” ujarnya.

Bagi Habib Jafar, pesan itu bukan sekadar soal kecerdasan, tapi tentang tanggung jawab untuk terus belajar dan berpikir. Sebab, tanpa itu, seseorang bisa dengan mudah merugikan diri sendiri maupun orang lain—hal yang juga ditekankan dalam ajaran Nabi Muhammad.

Yang menarik, nilai toleransi itu bukan hanya ia pahami secara teori. Sejak kecil, ia sudah diajak bersilaturahmi dengan tokoh lintas agama. Pengalaman itu membuatnya akrab dengan perbedaan, bukan sebagai sesuatu yang harus dijauhi, tapi justru dipahami.

Dari situlah, cara pandang Habib Jafar terbentuk—hangat, terbuka, dan tidak mudah menghakimi. Sebuah sikap yang, menurutnya, semakin penting di tengah masyarakat yang beragam seperti sekarang.

Baca Lainnya