Jumat, 16 Maret 2018 16:23

Prihatin Kondisi Citarum, Jurnalis Bentuk Komunitas Peduli Citarum

Reporter : Jumadi Kusuma
Komunitas Jurnalis Peduli Citarum.
Komunitas Jurnalis Peduli Citarum. [Limawaktu]

Limawaktu.id,- Bukan hanya aktifis lingkungan yang prihatin terhadap kondisi sungai Citarum yang berpredikat sebagai sungai terkotor di dunia, para awak media pun tidak ketinggalan mewujudkan komitmennya terhadap lingkungan dengan membentuk Komunitas Jurnalis Peduli Citarum (KJPC) belum lama ini.

Menindaklanjuti terbentuknya KJPC, maka pada hari Kamis (15/3/18) bertempat di Dafam Rio Hotel Kota Bandung dalam pertemuan yang kedua kalinya dibentuk kepengurusan KJPC sebagai koordinator kegiatan.

Pertemuan yang dihadiri oleh jurnalis dari perwakilan puluhan media daring (online) dan cetak yang tergabung dalam AMMNI (Aliansi Media Massa Nasional Indonesia) dan JBN (Jurnalis Bela Negara) sepakat memilih Setio sebagai ketua KJPC, sekertaris Zhovena dan bendahara Elly Elida.

“Komunitas ini sebagai bentuk silaturahmi bagi para jurnalis yang memiliki kesamaan kepedulian terhadap kondisi Sungai Citarum. Jadi bukan hanya membuat berita saja, tetapi bisa menggelar kegiatan dalam rangka ikut mendukung suksesnya program Citarum Harum ini,” sambut ketua terpilih, Setio.

Tidak ketinggalan Wartawan Senior Adi Raksanagara mengapresiasi terbentuknya KJPC.

“Saya kira program Citarum Harum perlu dukungan semangat dan komitmen dari seluruh komponen masyarakat, dan tentunya sosialisasi yang dilakukan oleh media. Sekarang sudah terbentuk komunitas Jurnalis Peduli Citarum, saya juga sebagai jurnalis memberikan apresiasi,” terang Abah Adi, panggilan karib dari Adi Raksanagara.

Lebih lanjut Abah Adi berharap dengan terbentuknya KJPC bisa mempercepat publikasi, sosialisasi, promosi, propaganda atau apapun tentang Citarum kepada masyarakat di kota dan kabupaten.

"Mudah-mudahan kepedulian dan tanggung jawab dari jurnalis tertularkan kepada masyarakat luas, kemudian jumlah media dan jurnalis yang tergabung bisa mempercepat dan memperbanyak wawasan masyarakat tentang progress dari Citarum. Bukan hanya bersih, tetapi kelanjutannya seperti apa, secara filosofi dan perilaku masyarakat terhadap sungai, itu yang harus ikut kita bangun,” pungkas Abah Adi.