Minggu, 6 Mei 2018 18:11

Praktik Limbah Langsung ke Sungai Berlangsung Lama, Dimanakah Peran DLH Kota Cimahi?

Reporter : Fery Bangkit 
Pabrik yang menbuang limbah langsung ke aliran sungai tanpa melalui proses IPAL yang baik di Kota Cimahi.
Pabrik yang menbuang limbah langsung ke aliran sungai tanpa melalui proses IPAL yang baik di Kota Cimahi. [Limawaktu]

Limawaktu.id,- Hingga Jum'at (4/5/2018), Satgas Sektor 21 Citarum Harum telah menciduk 19 pabrik di Kota Cimahi yang membuang limbah langsung ke aliran sungai tanpa melalui proses Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) yang baik.

Disinyalir, jauh sebelum Satgas Sektor Citarum Harum dibentuk, dari sekitar 500 pabrik di Cimahi, mayoritas pabrik tersebut kerap membuang limbah ke aliran sungai di Cimahi yang bermuara di Sungai Citarum.

Baca Juga : Ketua Apindo Cimahi: 90% Pabrik di Cimahi Tidak Miliki IPAL

Jika sudah berlangsung lama aktifitas yang jelas melanggar itu, dimanakan peran Dinas lingkungan Hidup (DLH) Kota Cimahi selama ini?

Ade Ruhiyat, Sekretaris DLH Kota Cimahi pun menjawab. Secara tegas dirinya membantah bahwa pihaknya lemah dalam melakukan pengawasan. Dikatakannya, pengawasan dilakukan secara berkala.

Baca Juga : Pabrik Baru di Cimahi Terciduk Buang Limbah ke Aliran Sungai Citarum

Ia juga menyangkal jika pihaknya selama ini menutupi adanya pabrik yang membuang limbah ke aliran sungai di Kota Cimahi, setelah 19 pabrik tersebut ditemukan Satgas Citarum Harum dan terbukti membuang limbah tanpa proses IPAL.

"Kita tidak menutupi itu, makanya kita welcome dengan temuan-temuan Satgas Citarum dan sebetulnya lagi diproses sama kita," kata Ade saat ditemui di Komplek Perkantoran Pemerintah Kota Cimahi, Jalan Rd. Demang Hardjakusumah, Minggu (6/5/2018).

Baca Juga : Pabrik Celup di Cimahi Ditutup Polda Jabar, nih Buktinya

Jika sudah melakukan pengawasan, lantas mengapa masih banyak pabrik yang membuang limbah secara langsung ke aliran sungai?

Diakui Ade, pihaknya selama ini kekurangan Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup (PPLH). Dia mengatakan, pihaknya terkendala pengawasan terhadap pabrik yang kerap membuang limbah, lantaran kekurangan PPLH yang tugasnya melakukan pengawasan terhadap pabrik-pabrik tersebut.

Baca Juga : Luhut Ancam Industri di Cimahi Selatan segera Perbaiki IPAL

"Kita (DLH) hanya ada 2 (dua) PPLH dan harus mengawasi 500 perusahaan. Memang perusahaan yang ada di Kota Cimahi itu, sebenarnya sudah dikenakan sanksi administrasi dan setiap tahun kita melakukan verifikasi," ujar katanya.

Bila selama ini pengawasan DLH terhadap pabrik-pabrik nakal terkendala kurangnya PPLH, lantas pengawasan seperti apa yang dilakukan DLH Kota Cimahi selama ini?

Baca Juga : Terulang, Dua Pabrik di Cimahi ini Kembali Buang Limbah Langsung ke Sungai

Pasalnya, pengawasan berkala yang diklaim kerap dilakukan DLH Kota Cimahi berbanding terbalik dengan kenyataan bahwa DLH selama ini kekurangan PPLH. Artinya, secara tidak langsung bahwa pengawasan terhadap pabrik tidak maksimal.

Buktinya, meski telah memberikan sanksi terhadap beberapa pabrik, masih banyak pabrik-pabrik itu yang membuang limbang langsung ke sungai.

Akibatnya, sejumlah aliran sungai yang ada di Kota Cimahi airnya berwarna hitam pekat dan merah, bahkan ada aliran sungai yang berbusa karena adanya pencemaran dari sejumlah pabrik tersebut.

Tapi menurutnya Ade, pencemaran limbah dari pabrik-pabrik ke aliran sungai itu belum tentu menjadi parameter pencemeran, sehingga harus dilakukan pengecekan di laboratorium terlebih dahulu.

"Sehingga satu-satunya pembuktian dari pencemaran limbah itu dari hasil pengecekan laboratorium, jadi kita tidak bisa serta merta melakukan tindak lanjut," kata Ade.

Kritikan soal pengawasan DLH Kota Cimahi pun datang dari Dansektor 21 Satgas Citarum Harum, Kolonel Inf Yusep Sudarajat. Menurutnya, adanya 19 pabrik yang telah ditemukan membuang limbah secara langsung ke aliran sungai di Kota Cimahi itu lantaran kurangnya pengawasan dari pihak DLH Kota Cimahi.

"Seharusnya dari dulu DLH Kota Cimahi bisa lebih ketat melakukan pengawasan terhadap pabrik-pabrik yang ada di Kota Cimahi," ujarnya.

Selain itu, lanjut Yusep, 19 pabrik di Kota Cimahi tersebut rata-rata memiliki IPAL, namun kebanyakan tidak berfungsi secara maksimal, sehingga limbah cair hasil produksinya mencemari aliran sungai.

"Jelas, kalau IPAL-nya tidak berfungsi secara maksimal, limbah cair itu mencemari aliran sungai dan rata-rata air sungai itu warnanya menjadi hitam pekat," katanya.

Baca Lainnya