Selasa, 15 Maret 2022 21:12

Populasi Penduduk Turunkan Ketersediaan Air Bersih

Reporter : Iman Nurdin
Populasi Penduduk Turunkan Ketersediaan Air Bersih
Populasi Penduduk Turunkan Ketersediaan Air Bersih [Iman Nurdin]

Bandung (Limawaktu.id) - Kondisi air bersih dengan perkembangan demografi berada dalam kondisi berbanding terbalik. Tingginya populasi membuat ketersediaan air semakin berkurang. 

 Sekretaris Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jabar, Yossy Desra mengatakan kepada wartawan usai acara Jabar Punya Informasi (JAPRI) bertema Hari Air Dunia ke 30 di Gedung Sate Bandung, Selasa (15/3/2022). 

"Populasi yang cukup besar itu ada di Bodebek. Di sana pertambahan penduduk sangat cepat. Apalagi di sana itu merupakan kawasan industri," ucap Yossy. 

Pihaknya meminta kepada masyarakat untuk cermat dan hemat dalam mengelola air untuk kehidupan sehari-hari. "Untuk itu, masyarakat harus bisa menghemat air semaksimal mungkin," imbuhnya.

Lebih lanjut Yossy mengatakan, pemprov Jabar hingga saat ini masih terus menghadirkan kolam retensi (embung) sebagai alternatif atau solusi di kala terjadi penyusutan air tanah.

"Ini salah satu strategi dalam manajemen air, dimana saat musim hujan kita kelebihan air, sedangkan musim kemarau kita kesulitan mendapatkan air. Salah satunya dengan membuat kolam retensi, " katanya. 

Selain itu, lanjut Yossy, pembuatan sumur resapan dan lubang-lubang biopori terus ditingkatkan Hal ini sangat efektif untuk mempersempit air buangan (run off) sehingga bisa terserap lagi ke dalam tanah. 

Sementara itu, pengamat Hidrogeologi ITB, Irwan Iskandar mengatakan, ketersediaan air bersih di Jabar kurang. Bukan tanpa alasan, pasalnya ruang terbuka hijau (RTH) masih kurang dari 30 persen. 

Saat ini lahan resapan dan lahan pengambilan air permukaan, tidak seimbang. Selain pertumbuhan populasi cukup tinggi sehingga, kebutuhan air, baik industri maupun domestik, tidak seimbang dengan suplai air. 

"Setidaknya air tanah sampai sepuluh hingga dua puluh persen yang ada di Jabar itu dalam kondisi kritis," ucap Irwan. 

"Kritisnya ini kan karena makin bertambahnya populasi masyarakat, utamanya di kawasan industri yang mengeksploitasi air tanpa memperhatikan kelestarian air tanah," ucap Irwan.

Dia mengatakan, penurunan muka air tanah menjadi masalah lingkungan yang serius, salah satunya akibat penggunaan air tanah yang berlebihan. 

"Masyarakat umumnya mengambil air paling banyak 50 liter per hari, tapi kalau industri sangat lebih dari itu," tegasnya. 

Irwan sempat mengusulkan, pemakaian air oleh industri dan domestik, dengan menggunakan teknologi. industri atau pabrik itu dapat menggunakan pipa atau jalur khusus dari daerah lain. 

 

 

 

 

Baca Lainnya