Jumat, 12 Juli 2019 17:59

Pilihan Tepat Seorang Howardi Tjandrasa

Reporter : Fery Bangkit 
Howardi Tjandrasa pengrajin radio dari kayu palet.
Howardi Tjandrasa pengrajin radio dari kayu palet. [ferybangkit]

Limawaktu.id - Istilah 'hidup itu pilihan' sepertinya tepat untuk menggambarkan sosok Howardi Tjandrasa. Sebab, demi menggapai hasratnya menjadi pengusaha, pria berusia 55 tahun itu rela keluar dari pekerjaannya.

Lulusan S2 Teknik Industri Institute Teknologi Bandung (ITB) itu banting setir menjadi pengrajin dari kayu palet limbah saat usianya berusia 32 tahun. Kini, setelah 23 tahun berlalu, omsetnya mencapai telah mencapai ratusan juta rupiah perbulannya.

Selama ini limbah kayu palet biasanya dibuang atau dijadikan kayu bakar. Namun, di tangan Wardi, sapaan Howardi, kayu limbah itu diubah menjadi radio dan barang estetik lainnya yang berdayaguna.

"Berangkat dari sana saya ingin membuat kerajinan dengan bahan yang murah tapi punya edit value yang tinggi, tentu untuk mendapatkan edit value yang tinggi harus unik dan memiliki nilai fungsional, presisi dan rapi pengerjaannya," ujar Wardi di workshop-nya, Jumat (12/7/2019).

Usaha yang dirintisnya itu tak berjalan mulus. Sebab, tahun pertama kita terus membuat produk, hampir tidak ada penjualan, "Kita bikin terus, sambil lama-lama setelah rapi, kita mulai berani mengiklan di Instagram, produk radio itu yang pertama kali kita bikin," ujar ayah dua anak itu.

Tak hanya radio vintage, Wardi juga bisa membuat gramophone dari kayu. Uniknya, walau dikemas dengan bentuk jadul, namun radio ini dilengkapi dengan flashdisk dan bluetooth player.

Peminat radio buatan Wardi mencapai ke luar negeri. Rata-rata pembeli mengetahui dari produk Wardi dari akun Instagram @kaiwoodenart. Satu radio dijual dengan harga Rp 2,5 juta perunit.

"Kebanyakan dijual lagi oleh pembeli dari Bali, mereka yang memasarkan lagi ke luar negeri," katanya.

Kendati peminatnya banyak, Wardi belum bisa membuat radio kayu secara massal. Ia hanya bisa membuat tiga hingga empat radio yang dikerjakan oleh empat karyawannya.

Masalahnya bukan di rangka kayu, tapi dari komponen radio yang langka."Komponen radio sulit didapatkan, saya hunting ke luar Jawa sampai ke luar negeri. Antena pendek untuk radio ini saya beli di luar negeri, setelah itu kendalanya siapa yang bisa merakit radio," ujarnya.

Wardi mengatakan, ia mengawali bisnisnya dengan menjadi seorang produsen furnitur dan interior berbahan dasar kayu. Baru tiga tahun ke belakang, Wardi mulai membuat produk-produk yang unik.

Ia pun terus mengeksplorasi gagasan dan menambah referensi dengan melihat berbagai produk kayu yang unik dari Jepang dan Taiwan.

"Mengapa mereka bisa, kenapa kita enggak bisa? kita mesin ada, skill ada, jadi yang kita lihat itu standar kerapihannya, saya juga suka melihat tayangan di Youtube cara memotong kayu yang benar, itu membantu sekali," ucap.

Selain radio, Wardi menjual produk-produk unik lainnya. Diantaranya tempat roti dari kayu, catur tiga dimensi, pohon natal, tatakan gelas, sarang burung dan barang-barang lainnya dari kayu palet.

Wardi mengandalkan media sosial Instagram untuk menjual produk kayu buatannya. Ia pun memiliki studio khusus untuk memotret setiap produknya.

"Saya curahkan jiwa saya dalam setiap produk yang dibuat, makanya daripada barang saya tak terpakai saya kirim dulu barangnya," katanya.

"Kalau cocok bayar, kalau enggak cocok ya dikembalikan lagi. Tapi sampai sekarang 100 persen barang belum pernah ada yang kembali lagi," ujar Wardi.

Baca Lainnya