Selasa, 3 Juli 2018 14:44

Piala Dunia Bikin Harga Sayuran di KBB Anjlok, kok Bisa?

Reporter : Fery Bangkit 
Dadan Kartiwa (37) suplier sayuran asal Kampung Cijerokaso Wetan, Desa Lembang, Kabupaten Bandung Barat.
Dadan Kartiwa (37) suplier sayuran asal Kampung Cijerokaso Wetan, Desa Lembang, Kabupaten Bandung Barat. [Limawaktu]

Limawaktu.id,- Demam Piala Dunia 2018 yang berlangsung di Rusia ternyata berdampak pada harga sejumlah komiditas sayuran di Sentra Penghasil Sayuran Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (kbb).

Akibat pagelaran akbar sepak bola tersebut, harga sayuran menjadi anjlok. Pasalnya, magnet Piala Dunia membuat para pedagang sayuran di beberapa pasar antusias nonton bareng sehingga meninggalkan barang dagangannya di kios. Ditambah pula dengan adanya libur Lebaran serta daya beli masyarakat yang turun setelah Lebaran.

"Para pedagang di pasar induk terlalu antusias menonton piala dunia, jadi kiosnya dibiarkan, tidak dijaga. Bahkan, saat mengobrol sama petani senior, harga-harga sayuran sering anjlok setiap perhelatan piala dunia," kata Dadan Kartiwa (37) suplier sayuran asal Kampung Cijerokaso Wetan, Desa Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Senin (3/7/2018)).

Saat pembukaan Piala Dunia, kata Dadan, harga sayuran dari tingkat petani, seperti tomat, buncis dan brokoli turun. Tomat yang biasanya dijual Rp3.000/kg, sekarang harganya cuma Rp1.000/kg. Harga brokoli juga turun dari Rp8.000/kg turun menjadi Rp4.000/kg.

"Tapi setelah seminggu piala dunia berjalan, harga-harga sayuran kembali normal. Bahkan sekarang, harga buncis malah naik menjadi Rp 12 ribu/kg," ungkapnya.

Dadan menuturkan, musim kemarau kali ini juga berdampak pada penurunan produksi sayuran sampai 30%. Pasalnya, tanaman saat musim kemarau lebih rentan diserang penyakit. Hama paling parah menyerang tanaman kubis. Akibatnya, petani mengalami kerugian yang cukup besar.

"Kondisi cuaca sangat tidak mendukung, penyakit bercak daun banyak menyerang tanaman kubis, kembangnya bolong-bolong karena diserang kupu-kupu. Walaupun sudah disemprot menggunakan obat-obatan, hasilnya tetap tidak maksimal," bebernya.

Untuk menyiram tanaman, para petani di Desa Cibodas biasanya hanya mengandalkan air dari tadah hujan. Namun pada saat ini mereka kekurangan air sehingga hanya mengandalkan air dari konsumsi rumahan.

"Karena kekurangan air, menyiram tanaman jadi cuma dua hari sekali, itu pun kalau airnya ada. Sedangkan jarak dari sungai ke rumah jauh. Kami berharap pemerintah bisa memberi bantuan pembuatan sumur bor untuk mengatasi masalah ini," pungkasnya.

Baca Lainnya