Sabtu, 16 Desember 2017 18:44

Pergaulan Seks Dominasi Penularan HIV/Aids

Reporter : Fery Bangkit 
ilustrasi
ilustrasi [pixabay]

 Limawaktu.id, - Pernyataan mengejutkan diungkap Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Cimahi, dr. Romi Abdurrahman.

Ketika dihubungi via sambungan Sabtu (16/12/2017), ia mengungkapkan faktor terbanyak penularan virus hiv-aids didominasi oleh pergaulan seks sesama jenis.

"Sekitar 10 tahun yang lalu, kasus HIV/Aids tertinggi itu disebabkan oleh penggunaan jarum suntik yang bergantian. Untuk sekarang justru berbalik. HIV/Aids tertinggi itu akibat hubungan seks," ungkap Romi.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kota Cimahi, penderita HIV-Aids pada tahun 2005 sampai 2016 karena hubungan seks sebanyak 307 kasus. Sedangkan untuk 2017, mulai dari Januari sampai April, telah dikonfirmasi 313 kasus HIV/Aids akibat hubungan seks.

Romi menerangkan, jika dirinci, kasus penularan HIV/Aids dari ibu ke anak sebanyak 18 kasus atau sebesar 6 persen, penularan akibat perilaku transeksual sebesar 60 persen, dan yang melalui jarum suntik sebesar 34 persen.

"Untuk penderita laki-laki sebesar 67 persen dan perempuan 27 persen serta waria 6 persen. Peningkatan kasus penularan kasus HIV/Aids di Kota Cimahi hampir seluruhnya lewat hubungan seksual," bebernya.

Menurut Romi, penularan virus HIV sebenarnya bukan karena masalah orientasi seksual seseorang, namun lebih menitikberatkan pada seperti apa perilaku orang tersebut dalam melakukan hubungan seksual dengan pasangannya ataupun.

Meski seseorang termasuk dalam kategori heteroseksual (melakuan sex dengan lain jenis) namun jika dia termasuk orang yang sering bergonta-ganti pasangan saat melakukan hubungan seksual tanpa menggunakan alat pengaman, maka orang tersebut beresiko tinggi tertular virus HIV.

"Hal-hal seperti itu lah yang menjadikan mereka disebut penular dengan resiko yang lebih tinggi. Walaupun pada dasarnya bukan kepada orientasi seksualnya tetapi lebih kepada prilakunya," jelasnya.

Romi menyebutkan, di Indonesia angka heteroseksual yang terkena virus HIV lebih tinggi ketimbang mereka yang ada dalam kategori LGBT. Namuj demikian, di Kota Cimahi dan Bandung Raya, tren penularan virus HIV justru lebih banyak melalui LGBT, khususnya pada kategori gay dan waria atau Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL).

"Ironisnya, banyak mereka yang LGBT khususnya gay dan waria, yang terkena HIV/Aids ini. Sehingga dulu ada singkatan AIDS itu 'Akibat Intim Dengan Sesama', karena pada awalnya menyebar di kalangan gay," terangnya.

Romi menjelaskan, LGBT lebih dianggap beresiko dalam penyebaran virus HIV, sebab biasanya kesadaran diri untuk menggunakan alat pengaman saat berhubungan sek sangat rendah. Selain itu karena rata-rata dari mereka tidak menikah menyebabkan untuk berganti-ganti pasangan lebih besar.

"Meski LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transeksual) namun bila perilakunya baik, seperti tidak berganti-ganti pasangan, atau memakai kondom saat hubungan beresiko, bisa jadi dia justru aman," ujarnya.

Romi menghimbau untuk menghindari tertular penyakit ini, sebaiknya jangan berhubungan seks terutama yang belum nikah, sedangkan yang sudah punya pasangan harus setia terhadap pasangannya dan yang memang belum bisa berlaku setia apa bila berhubungan yang mengandung resiko pakailah pengaman.

"Kuncinya adalah setia, memerhatikan kesehatan dengan menggunakan alat pengaman, dan jangan berhubungan seks di luar nikah," tandasnya. (kit)

Baca Lainnya

Rustan Abubakar Al Iskandari
Rustan Abubakar Al Iskandari

Hadduuuuh

16 Desember 2017 12:47 Balas