Kamis, 27 September 2018 15:29

Penghasilannya Honorer di Cimahi Lebih Kecil dari Pembantu Rumah Tangga

Reporter : Fery Bangkit 
Para Honorer Menggelar Audiensi di DPRD Kota Cimahi, Jalan Djulaeha Karmita, Kamis (27/9/2018).
Para Honorer Menggelar Audiensi di DPRD Kota Cimahi, Jalan Djulaeha Karmita, Kamis (27/9/2018). [Fery Bangkit / Limawaktu]

Limawaktu.id - Seluruh Honorer Kota Cimahi menuntut nilai upah mereka disetarakan dengan Upah Minimum Kota (UMK) Cimahi. UMK Cimahi tahun 2018 sendiri mencapai Rp2.678.028.

Tuntutan tersebut disuarakan usai para honorer baik Kategori 2 (K2) maupun non K2 menggelar audiensi di DPRD Kota Cimahi, Jln. Djulaeha Karmita, Kamis (27/9/2018. Audiensi Anggota DPRD dan perwakilan Pemkot Cimahi.

Baca Juga : Gaji Honorer Kecil, Begini Respon Wali Kota Cimahi

Koordinator Pegawai Aliansi K2 Bersatu Kota Cimahi, Eko Marhendro mengatakan, penghasilannya sebagai guru selama ini sangat jauh dari kata sejahtera. Menurutnya, rata-rata honorer di Kota Cimahi dibayar per bulannya Rp 300-600 ribu.

"Kami mungkin di sini mengajukan penambahan kesejahtraan UMR (UMK)," kata Eko saat ditemui usai audiensi.

Jumlah honorer di Kota Cimahi mencapai 2.200 orang, yang terdiri dari guru dan tenaga penidik lainnya baik di sekolah negeri maupun swasta.

Menurut Eko, sebelumnya akan ada kebijakan bahwa para honorer akan diberikan tunjangan Rp 800 ribu per bulan. Namun, kata Eko, jumlah tunjangan tersebut tak lebih baik dari penghasilan seorang asisten rumah tangga atau pembantu.

"Kalau kemarin ada kebijakan akan diberikan Rp 800 per bulan. Saya bandingkan, pembantu saja Rp 1 juta," tandasnya.

Sementara itu, Kepala Badan Pengelolaan Kepegawaian dan Sumber Daya Manusia Daerah (BPKSDMD) Kota Cimahi, Harjono mengatakan, permasalahan kenaikan kesejahtraan akan dibahas dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lain di lingkungan Pemkot Cimahi.

"Masalah kenaikan insentif itu tanggung jawab daerah. Akan dibahas lebih lanjut, termasuk permintaan UMK," jelasnya.

Baca Lainnya