Jumat, 3 Januari 2020 14:46

Penanganan Lambat, Warga Korban Banjir Bandang di Tiga Desa Dibuat Serba Resah

Sejumlah Alat Berat Untuk Membersihkan Gorong-gorong Yang Tersumbat Sampah
Sejumlah Alat Berat Untuk Membersihkan Gorong-gorong Yang Tersumbat Sampah [Fery Bangkit]

Limawaktu.id - Belum dibuatnya tanggul permanen membuat warga korban banjir di Desa Cipeundeuy, Kecamatan Padalarang dan Desa Margajaya Kecamatan Ngamprah terus dihantui banjir bandang susulan.

Di Desa Cipeundeuy tepatnya di Kampung Pajagalan RT 05/02 dua tanggul atau benteng sepanjang 39 meter jebol saat hujan deras pada Selasa (31/12/2019) sore. Akibatnya, air dari Sungai Cihaur Geulis yang meluap langsung merendam pemukiman warga hingga 1,5 meter lebih.

"Iya selama tanggul belum dibangun, saya termasuk warga lainnya jelas khawatir. Apalagi ini masih musim hujan," kata Dedi Supriadi saat ditemui, Jumat (3/1/2020).

Banjir bandang yang terjadi dimalam pergantian tahun baru itu membuat 30 rumah warga Kampung Pajagalan mengalami kerusakan yang cukup parah. Selain itu, harta benda milik 300 jiwa juga ikut terendam.

Dedi mengatakan, saat ini memang sudah mulai dibuat tanggul sementara. Namun, warganya tetap saja khawatir ketika hujan deras seperti tiga hari lalu kembali menerjang. Apalagi tanggul itu merupakan pembatas utama aliran sungai dengan pemukiman warga.

Foto Istimewa

"Iya harapannya segera dibangun tanggul permanen biar warga juga segera tidur nyenyak di rumahnya. Walaupun belum normal kaya dulu," katanya.

Hal serupa dirasakan warga Perumahan Cimareme Indah Blok D RT 04/03, Desa Margajaya, Kecamatan Ngamprah. Mereka khawatiran akan adannya banjir susulan mengingat curah hujan masih tinggi, sementara tanggul permanen belum dibangun.

Ketua RT 04, Yayat Ruhiyat, mengatakan pihaknya minta perbaikan dan pembangunan tanggul atau dinding pembatas didahulukan. Ada 77 Kepala Keluarga (KK) dengan 230 jiwa yang berdomisili di kawasan Ibu Kota KBB itu.

"Harusnya prioritas itu pembangunan tanggul dulu karena itu yang bakal menahan air kalau meluap lagi," ujar.

Sebelumnya, kata Yayat, Bupati Bandung Barat, Aa Umbara, yang datang ke lokasi banjir mengatakan bakal segera memperbaiki tanggul tersebut. "Tapi cuma bilang segera diperbaiki, tapi waktu pastinya kapan dibangun lagi belum tau. Jadi sampai sekarang ya warga tetap resah," katanya.

Sebagai penanggulangan sementara, warga bersama BPBD Kabupaten Bandung Barat membuat tanggul darurat dari karung berisi pasir yang ditumpuk di sepanjang bibir sungai.

"Sementara ya ditahan dulu dengan karung pasir ini. Tapi tidak menjamin bisa menahan air kalau hujan deras dan airnya meluber lagi," tuturnya.

Kekhawatiran akan adanya banjir bandang susulan juga dirasakan warga Kampung Lebaksari RT 01/02, Desa Mekarsari, Kecamatan Ngamprah. Mereka yang berada di kawasan pembangunan trase Kereta Cepat Jakarta Bandung (KJCB) itu diterjang banjir bandang setinggi 1,5 meter bercampur lumpur pada Selasa (31/12/2019) sore.

Menurut Ghoir (35), warga setempat, banjir tersebut merupakan kiriman dari wilayah KBB yang posisinya lebih tinggi. Air yang mengalir di saluran pembuangan depan rumahnya tak tertampung hingga meluber dan merendam ratusan rumah warga.

"Jadi di depan itu ada gorong-gorong yang mengalirkan air, tapi tidak bisa menampung debit air dari atas jadi meluber. Diameter gorong-gorongnya juga cuma 1 meter, belum lagi disumbat sama sampah," ujar Ghoir saat ditemui, Jumat (3/1/2020).

Agar kekhawatiran warga bisa berkurang, ia meminta pihak terkait untuk memperbaiki saluran tersebut. Termasuk pada pihak PT. KCIC, lantaran lumpur dari proyek kereta cepat menyumbat laju air.

"Kemarin sudah disampaikan ke Pak Wagub Jabar dan Pak Bupati Bandung Barat, mereka bilang nanti akan segera memperlebar saluran mumpung banyak alat berat, tapi kepastiannya kapan itu belum tahu," bebernya.

Menurut Ghoir, banjir yang terjadi kali ini merupakan yang terparah sejak 10 tahun terakhir. "Saya pribumi di sini, rumah ini dari orangtua, jadi sudah lebih dari 40 tahun berdiri. Dan ini banjir paling parah yang pernah saya alami," bebernya.

Di Kampung Lebaksari, ada 85 KK dengan 376 jiwa yang terdampak ketika banjir bandang itu.

Baca Lainnya

Topik Populer

Berita Populer