Kamis, 24 Mei 2018 16:05

Penanganan Aksi 20 Tahun Reformasi Dinilai Tidak Profesional, KAHMI Kecam Aparat Kepolisian

Reporter : Jumadi Kusuma
Sejumlah mahasiswa terluka karena penanganan yang dilakukan aparat kepolisian kurang profesional.
Sejumlah mahasiswa terluka karena penanganan yang dilakukan aparat kepolisian kurang profesional. [Limawaktu]

Limawaktu.id - Aksi demontrasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dalam peringatan 20 tahun reformasi didepan Istana Negara Jakarta pada Senin, 21 Mei lalu yang berujung kericuhan antara mahasiswa dengan Aparat Kepolisian, mendapat kecaman dari Majelis Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MN KAHMI).

Diketahui dalam Aksi tersebut sejumlah mahasiswa terluka karena penanganan yang dilakukan aparat kepolisian kurang profesional, demikian pernyataan sikap MN KAHMI yang diterima limawaktu.id, Kamis (24/5/18).

Koordinator Presidium MN KAHMI Prof. Dr. R. Siti Zuhro, MA menyatakan bahwa demonstrasi adalah bagian dari ekspresi menyatakan pendapat yang keberadaannya dijamin dalam negara demokrasi sehingga penanganannya perlu dilakukan secara profesional tanpa menimbulkan korban. 

"MN KAHMI mengutuk keras cara aparat kepolisian yang tidak profesional dalam penanganan aksi dan menuntut kepolisian bertanggungjawab atas timbulnya korban dalam aksi tersebut", tandas Zuhro.

Selain itu MN KAHMI, meminta kepolisian melakukan pengusutan dan penindakan atas ketidakprofesionalan yang dilakukan anggotanya agar di masa depan tidak ada lagi peristiwa serupa.

"Pihak kepolisian harus menyampaikan permohonan maaf secara terbuka", tambah Zuhro.

Terkait mahasiswa yang menjadi korban dalam aksi keprihatinan tersebut, maka Majelis Nasional KAHMI memberikan perlindungan hukum.

Baca Lainnya