Selasa, 16 Juli 2019 12:10

Padi di Pasir Kiara:Bulan Lalu Panen Puso, Sekarang Hanya Terselamatkan 2,5 Hektare

Reporter : Fery Bangkit 
Petani Yang Memanen Lebih Awal.
Petani Yang Memanen Lebih Awal. [ferybangkit]

Limawaktu.id - Padi di lahan pertanian Pasir Kiara, Kelurahan Cipageran, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi akhirnya dipanen. Lahan dengan luas 15 hektare itu menglami kekeringan akibat musim kemarau.

Bulan lalu, para petani sudah memanen padi di lahan 10 hektare. Itupun terbilang panen dini. Petani khawatir akan mengalami gagal panen jika tak segera dipanen. Sementara sisa padi di 5 hektare tersisa saat itu belum bisa ditanam karena masih hijau.

Baca Juga : Warganya Mulai Terdampak Kekeringan, Hengky Bilang Begini

"Ini sisanya 5 hektare itu baru dipanen minggu kemarin," kata Abah Darwita (55), salah seorang petani, Selasa (16/7/2019).

Panen di lahan tersisa ini terpaksa dilakukan para petani karena khawatir padinya tidak terselamatkan. Apalagi, musim kemarau diprediksi akan berlangsung lama, sehingga kecil kemungkinan sawah di Pasir Kiara akan teraliri air.

Para Petani Terpaksa Memanen Padinya Lebih Awal.

Baca Juga : Musim Kemarau, Apa Kabar Irigasi di Kota Cimahi?

"Sebetulnya belum saatnya panen, bisa dibilang panen dini. Tapi daripada tidak selamat padinya," ujar Darwita.

Dari total luas lahan 5 hektre itupun, lanjut Darwita, tidak semuanya bisa diubah dari padi menjadi beras nantinya. Dikatakannya, hanya ada sekitar 2,5 padi yang bisa diselamatkan. "Jadi masih ada padi yang memang gak bisa jadi beras. Warnanya masih hijau, tumbuhnya masih lurus. Kalau yang benar panen kan yang menguning dan melengkung ke bawah," jelasnya.

Baca Juga : Jika 5 Hektare Padi di Cimahi Gagal Panen, ini Jumlah Kerugiannya

Sawah di Pasir Kiara sendiri mendapat pasokan air dari daerah irigasi Cijanggel, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Sejak sekitar dua bulan lalu sawah disana tidak teraliri air.

Irigasi Cijanggel.

Kondisi daerah irigasi Cijanggel terbilang parah. Airnya sudah tidak mengalir sejak dari hulu, dan kerap terjadi setiap tahun. Selain karena kemarau, banyaknya pipa milik oknum dari berbagai pihak pun disinyalir menjadi penyebab menyusutnya air ke irigasi Cijanggel.

"Kalau dulu itu airnya subur dari Cijanggel. Sekarang juga sebetulnya ada, tapi banyak sama pam (pipanisasi)," tuturnya.

Semenara itu, Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kelas I Bandung, Tony Wijaya menerangkan, puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada bulan Agustus sampai September dengan karakteristik suhu udara dingin dan kering.

"Untuk Jawa Barat, periode musim kemarau datang pada bulan Juni dengan terlebih dahulu  masuk di wilayah sekitar pantura, kemudian bergerak ke arah selatan," jelas Tony. 

 

Baca Lainnya