Senin, 9 Juli 2018 12:49

Musim Kemarau Petani di Lembang Malah Untung, ko bisa?

Reporter : Fery Bangkit 
Ilustrasi.
Ilustrasi. [Net]

Limawaktu.id,- Dampak musim kemarau tidak terlalu dirasakan sejumlah petani di kawasan lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Malah, hal sebaliknya dialami para petani. Keuntungan bisa semakin bertambah, karena mereka juga tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli obat hama tanaman.

"Kemarau enggak terlalu berpengaruh bagi kami. Soalnya, air untuk menyiram tanaman cukup tersedia di sini. Yang penting, punya banyak tenaga untuk memikul air dari sungai ke perkebunan," kata Cahya Rohman (55) petani asal Kampung Nyampai, Desa Langensari, Kecamatan Lembang, Senin (9/7/2018).

Rohman menyatakan, selama puluhan tahun menggeluti pertanian, dirinya belum pernah merasakan dampak kekeringan di saat musim kemarau karena sumber air yang ada cukup tersedia untuk ratusan petani di Kampung Nyampai.

"Kalau saya sih, harapannya seminggu sekali bisa turun hujan supaya enggak repot cari air. Karena musim kemarau seperti sekarang, tanaman hanya perlu terus disiram, minimal dua kali sehari. Jika dalam seminggu, sehari turun hujan, berarti tugas saya mencari air bisa sedikit terbantu," ucapnya.

Rohman merasa hasil panen pada musim kemarau juga lebih baik daripada musim hujan asalkan tamanan rutin disiram air, ditambah tanaman juga jarang dihinggapi hama. Karena menurut dia, dengan seringnya turun hujan, tanaman justru lebih mudah diserang hama.

"Penggunaan obat lebih boros saat musim hujan, karena setelah tanaman disiram sama obat hama, malah turun hujan. Jika musim hujan, saya harus memberi obat hama sampai lima kali dalam sehari," terangnya.

Dibandingkan dengan musim kemarau, lanjut dia, tanaman hanya cukup diberi obat hama satu kali dalam seminggu sehingga ongkos atau biaya pemeliharaan tanaman bisa ditekan hingga 60 persen.
Rohman menyebutkan, saat musim kemarau seperti sekarang, harga-harga hasil pertanian juga sangat menguntungkan para petani. Tomat misalnya, dia bisa menjualnya dengan harga Rp 6.000/kg, buncis Rp 12.000/kg dan cabe rawit Rp 42.000/kg.

Dikatakannya, harga hasil petani sendiri tergantung dari hasil produksi. Jika kondisinya sedang jelek, harga pasti naik. "Berbeda dengan cabai, cabai itu tidak bisa ditentukan sama cuaca, karena tergantung panen di daerah, kalau kurang, harganya pasti naik. Seperti ketika musim hujan beberapa waktu lalu, karena jalur distribusinya terhambat oleh banjir, harga cabai bisa naik hingga diatas Rp 60 ribu/kilo," pungkasnya.

Baca Lainnya