Senin, 4 Mei 2020 15:09

Miris! Terkapar Bertahun-tahun, Janda Tua di Cimahi tak Tersentuh Bantuan

Limawaktu.id - Ugih Sumarni (77), warga Kebon Kopi, RT 03/08, Kelurahan Cibeureum, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi hanya bisa berbaring di rumah sederhananya sejak mengalami kecelakaan beberapa tahun lalu.

Setelah kecelakaan, janda tua itu mulai sakit-sakitan hingga mengidap kanker tulang pada kaki kirinya. Ugih ditabrak oleh seorang pengendara motor yang kabur setelah kejadian nahas tersebut.  

Di rumah sederhana tersebut, Ugih tinggal bersama Juariah (41), anak bungsunya, serta tiga orang cucu yang masih sekolah. Jauriah pun terpaksa tidak bekerja, sebab harus mengurus sang ibu.

Namun kondisi tersebut selama bertahun-tahun tidak dilirik pemerintah agar terdata sebagai penerima bantuan. Parahnya, mereka mengaku sama sekali belum pernah didata pihak RT maupun RW. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia menunggu kiriman uang dari kakak-kakaknya, yang juga hidup tak berkecukupan.

"Ibu saya janda dari tahun 1988 belum pernah dapat bantuan. Saya juga janda tapi enggak terdaftar bantuan. Belum pernah sekalipun didata untuk dapat bantuan sama RT, RW, apalagi kelurahan," ungkap Juariah saat ditemui, Senin (4/5/2020).

Jika belum mendapat kiriman dari kakaknya, Ugih, Juariah, dan ketiga anaknya pantang untuk meminta-minta. Mereka memilih kelaparan, layaknya orang tengah berpuasa. Namun sebisa mungkin sang ibu harus tetap mendapat asupan makanan meski seadanya.

"Saya pantang minta-minta sama tetangga, lebih baik puasa. Sebisa mungkin buat ibu selaku dikasih makan, meskipun cuma roti atau makanan ringan, yang penting enggak kelaparan, kalau saya sama anak-anak ga apa-apa kelaparan," ungkapnya, lirih. 

Jauriah sendiri merasa ada perbedaan perlakuan dari pengurus RT dan RW, bahkan oleh kelurahan. Padahal kondisi ia dan sang ibu yang sakit parah, bukan orang berkecukupan. 

"Jangankan buat berobat ibu, buat makan saja sulit. Saya enggak tega lihat ibu saya tiap malam kesakitan, kadang enggak tidur karena kakinya sakit," terangnya. 

Kondisi memprihatinkan keluarganya akhirnya viral lewat media sosial akhir-akhir ini. Dari situ, perhatian baru mulai datang dari banyak pihak, termasuk yang selama ini menutup mata akan keberadaan keluarga mereka. 

RT dan RW setempat baru mau mendata setelah kondisi keluarganya mengemuka di media sosial. "Setelah viral kalau ibu saya sakit dan butuh bantuan, baru pengurus RT dan RW datang mau ngedata. Selama ini kemana saja," ujarnya.

"Cukup keluarga kami yang seperti ini, kasihan kalau keluarga lain yang mungkin lebih sengsara dari saya dapat perlakuan yang sama," tambah Jauriah. 

Ia berharap banyak pihak yang ikhlas membantu biaya berobat ibunya ke rumah sakit. Awalnya, Jauriah ingin membawa sang ibu ke Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung untuk mendapat perawatan.

"Tapi kondisinya lagi Covid-19. Khawatir ibu saya tertular, mungkin tunggu dulu aja sambil kumpulin biayanya," pungkasnya.  

Baca Lainnya

Topik Populer

Berita Populer