Sabtu, 16 Desember 2017 18:40

Minim Sosialisasi, Asuransi Pertanian di Cimahi Sepi Peminat

Ditulis Oleh Fery Bangkit 
Seorang petani sedang menggarap lahan miliknya
Seorang petani sedang menggarap lahan miliknya [limawaktu]

Limawaktu.id, - Para petani di Kota Cimahi mengeluhkan minimnya sosialisasi dari pemerintah setempat soal Asuransi Pertanian. Padahal, program Kementerian Pertanian (Kementan) tersebut sudah berjalan sejak 2016.

Enok (47), petani asal Kelurahan Cipageran, Kecamatan Cimahi Utara Kota Cimahi mengatakan, ia sama sekali tidak mengetetahui perihal Asuransi Pertanian.

"Saya belum tahu. Belum pernah ada sosialsiasi ke saya mah," ucapnya, Sabtu (16/12/2017).

Menurutnya, para petani butuh informasi dan pemahaman soal asuransi tersebut. Jika memang Asuransi Pertanian dirasa berpihak terhadap petani, mungkin saja ia akan mendaftar.

"Bagaimana mau ikut, tau aja nggak," katanya.

Petani lainnya, Durahman (50) merasakan hal sama. Petani asal Kelurahan Cibabat, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi itu belum pernah mengikuti sosialsiasi tentang Asuransi Pertanian.

“Gak punya Asuransi Pertanian. Gak tau ada asuransi,” tuturnya.

Ia meminta pemerintah setempat untuk memberikan pemahaman soal program terasebut. Bagi petani awam seperti dirinya, tranformasi dan informasi sangatlah dibutuhkan.

Sementara itu, Kepala Bidang Pertanian Dinas Pangan dan Pertanian Kota Cimahi Mita Mustikasari mengklaim, pihaknya kerap melakukan sosialisasi terkait Asuransi Pertanian.

"Sosialisasi sebenarnya sudah, tapi butuh waktu lama (bagi petani) untuk bisa memahami Asuransi Pertanian. Kita terus menghimbau dan mensosialisasikan baik formal maupun informal," katanya.

Sekedar informasi, Asuransi Pertanian merupakan program bersubsidi pemerintah pusat. Klaim akan dibayarkan jika para petani mengalami gagal panen.

Total premi asuransi yang harus dibayar Rp. 180.000. Petani membayar sebesar Rp. 36.000 per hektare, sementara pemerintah mensubsidi Rp144.000 per hektare.

Di Kota Cimahi, lahan pertanian sendiri hanya sekitar 137,14 hektare.

Mita menjelaskan, asuransi pertanian akan bermanfaat jika suatu saat para petani mengalami kegagalan panen, atau mungkin tanamannya terkena hama.

"Kalau misalnya ada wabah, itu bisa diganti, dengan asuransi, kerugiannya berapa,” ujar Mita. (kit)