Rabu, 21 Februari 2018 14:03

Menguak Tragedi 13 Tahun Silam di Cireundeu Hingga Dijadikan Hari Peduli Sampah Nasional

Reporter : Fery Bangkit 
Sekitar 10 orang berbaju serba hitam atau baju pangsi duduk melingkar di sebuah punggung bukit dan mendengarkan alunan karinding sebagai ritual mengenang tragedi 157 orang meninggal dunia karena longsoran sampah 13 tahun silam di Cirendeu.
Sekitar 10 orang berbaju serba hitam atau baju pangsi duduk melingkar di sebuah punggung bukit dan mendengarkan alunan karinding sebagai ritual mengenang tragedi 157 orang meninggal dunia karena longsoran sampah 13 tahun silam di Cirendeu. [Limawaktu]

Limawaktu.id,- 13 tahun berlalu sejak 21 Februari ketika 157 jiwa lenyap dan dua kampung terhapus dari peta akibat longsoran sampah dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah.

Tragedi memilukan itu tidak akan terhapus dalam ingatan, terutama bagi warga Cireundeu, Kelurahan Leuwigajah Kecamatan Cimahi Selatan Kota Cimahi yang menjadi saksi dahsyatnya longsor tersebut.

Sekitar 10 orang berbaju serba hitam atau baju pangsi duduk melingkar di sebuah punggung bukit dan mendengarkan alunan karinding yang dimainkan sebagian dari mereka. Suara alat musik dari bambu itu dimainkan dengan cara menjepitnya di bibir dan ditepuk dengan telapak tangan kanan.

Suara yang dihasilkan bernada tinggi, melengking, dan berpadu dengan hembusan angin dan terik matahari. Masih terdengar alunan suara karinding, kemudian penaburan bunga dilakukan tepat di lokasi longsoran itu.

Setelah prosesi ritual mengenang tragedi selesai, salah satu pupuhu Kampung Adat Cireundeu, Asep Abas menuturkan, ritual diperuntukan bagi arwah leluhur dan sesepuh dengan harapan diberikan tempat terbaik di sisi sang pencipta.

Kepercayaan warga kampung adat Cireundeu, peristiwa longsor sampah terjadi karena pemerintah melanggar larangan adat dengan mengotori mata air atau disebut sirah cai.

"Bagi kami air itu sumber kehidupan, istilahnya Cikahirupan. Sudah diingatkan oleh leluhur kalau pemerintah jangan mengotori sumber kehidupan dengan dijadikan tempat sampah tapi dilanggar. Dari kepercayaan kami ya itu teguran dari pencipta," ujar Asep saat ditemui usai ritual.

Longsor yang terjadi pada pukul 02.00 tersebut karena ledakan gas metan yang terakumulasi setelah sekian lama. Hal tersebut diperkuat oleh keterangan warga yang juga mendengar suara ledakan sesaat sebelum longsor.

Gunungan sampah sepanjang 200 meter dan setinggi 60 meter itu goyah karena diguyur hujan deras semalam suntuk dan terpicu konsentrasi gas metan dari dalam tumpukan sampah. Sampah di TPA itu memang menggunakan sistem open dumping yakni dibuang dan ditumpuk begitu saja.

Akibat kejadian tersebut, tercatat 157 orang meninggal dunia, belum termasuk harta benda yang lain. Inilah musibah yang barangkali tercatat pertama kali dalam sejarah peradaban manusia, ratusan nyawa melayang gara-gara tertimbun sampah.

"Kalau korban itu sekitar 147 jiwa. Tapi itu kan belum ditambah sama jumlah pemulung yang jadi korban di situ, kebanyakan dari mereka kan tidak terdata. Mungkin korbannya lebih banyak dari data," paparnya.

Sejak kejadian itu, setiap tahunnya warga adat Kampung Cireundeu selalu memperingatinya setiap tahun. Sebagai penghormatan, Asep yang mewakili warga berjanji akan selalu memperingatinya dengan berbagai ritual dan doa.

Peristiwa tragis tanggal 21 Februari 2005 itu pula dijadikan sebagai cikal bakal Hari Peduli Sampah Nasional.

Perihal wacana dari pemerintah untuk merefungsikan kembali daerah tersebut sebagai tempat pembuangan akhir terpadu, Ia menjamin mayoritas warga kampung adat akan menolak mati-matian.

Ia menegaskan, sudah cukup warga kampung adat Cireundeu menderita selama lebih dari 20 tahun karena lokasi tempat tinggal mereka dijadikan tempat pembuangan akhir dengan sistem pengelolaannya yang tidak ramah lingkungan.

Selain lingkungan menjadi tidak sehat, efek negatif lainnya adalah kesan yang dari orang lain yang menganggap jika kampung adat Cireundeu justru identik sebagai tempat sampah, bukan kampung adat.