Senin, 30 Maret 2020 12:43

Manfaat Besar, Kok Petani di Cimahi 'Ogah' Ikut Asuransi Pertanian

Salah Seorang Petani di Kota Cimahi Tengah Memanen Padinya yang Mengalami Kekeringan
Salah Seorang Petani di Kota Cimahi Tengah Memanen Padinya yang Mengalami Kekeringan [Fery Bangkit]

Limawaktu.id - Pemkot Cimahi terus mendorong para petani di Kota Cimahi agar mendaftar ke dalam program asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). Sebab, program itu dinilai bermanfaat untuk melindungi petani ketika mengalami berbagai musibah yang melanda sektor pertaniannya.

Sejak dipublish oleh Kementerian Pertanian (Kementan) RI tahun 2015, belum ada satupun petani asal Kota Cimahi yang mendaftar ke dalam program tersebut. Tercatat ada 657 petani di Kota Cimahi. Sebanyak 505 di antaranya petani padi yang masuk kategori program asuransi pertanian.

"Di kita enggak ada yang masuk asuransi pertanian," kata Kepala Bidang Pertanian pada Dinas Pangan dan Pertanian Kota Cimahi, Mita Mustikasari saat dihubungi, Senin (30/3/2020).

Menurut Mita, belum adanya petani yang mendaftar masuk AUTP di Kota Cimahi karena petani merasa selama ini belum ada gangguan terhadap sektor pertanian yang dimiliknya. Total lahan sawah tersisa hanya sekitar 137 hektare.

Padahal, tegas Mita, asuransi tersebut sangat bermanfaat bagi petani apabila ada hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti kerusakan lahan, tanaman terkena wabah hama hingga terdampak bencana alam.

"Kita kan dari penyuluh setiap hari keliling. Allhamdulilah sampai saat ini kalau ada serangan hama masih bisa diantisipasi. Jadi mungkin para petani masih dalam kondisi aman," ungkap Mita.

Ia mengklaim, pihaknya bersama para penyuluh kerap melakukan sosialisasi dan edukasi baik secara formal maupun non formal mengenai manfaat asuransi tani ini. Harapannya, petani mau mengasuransikan lahan sawahnya sebagai perlindungan jika nantinya mengalami musubah.

"Sangat penting. Bencana kan enggak bisa diprediksi, tapi kan mereka bisa melindungi lahan pertanian yang dikelolanya. Sosialisasi, edukasi tetap kita lakukan ke para petani, tapi kita enggak bisa maksa juga," jelasnya.

Mita melanjutkan, sesuai namanya AUTP merupakan perlindungan yang diberikan dirujukan secara khusus untuk petani yang memiliki tanaman padi. Tujuannya, untuk melindungi kerugian nilai ekonomi usaha tani padi akibat gagal panen, sehingga petani memiliki modal kerja untuk pertanaman
berikutnya.

Total premi yang harus dibayar Rp. 180.000. Petani hanya membayarkan premi Rp. 36.000, sedangkan 80 persen sisanya dibayarkan oleh pemerintah pusat. Untuk pertanggungan harga maksimalnyya Rp. 6.000.000 per hektare jika terjadi bencana pada sektor pertanian petani.

Kriteria yang berhak atas asuransi tersebut di antaranya petani penggarap atau pemilik lahan maksimal 2 hektare yang memiliki lahan irigasi, tadah hujan dan yang dekat dengan sungai.

Ganti rugi diberikan apabila umur padi sudah melewati 10 hari tanam, umur padi sudah melewati 30 hari (tabela/gogo rancah), intensitas kerusakan lebih dari 75 persen serta luas kerusakan lebih dari 75 persen.

 

Baca Lainnya

Topik Populer

Berita Populer