Cimahi - Lingkungan pesantren menjadi salah satu kluster penularan COVID-19. Tercatat ada empat pesantren di Kota Cimahi yang pernah disusupi virus korona.
Untuk itu, Pemkot Cimahi mengajak para ulama umaro di Kota Cimahi untuk bersama-sama menangani pandemi COVID-19 ini. Salah satunya dengan pengetatan protokol kesehatan.
Hal tersebut disampaikan Pelaksana Tugas Wali Kota Cimahi, Ngatiyana ketika menghadiri acara Forum Ulama Umaro Tingkat Kota Cimahi Tahun 2020 di Aula Gedung A Pemkot Cimahi, pada Selasa (8/12/2020).
"Penekanannya kepada para kiyai, ulama dan para santrinya agar lebih disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan. Salah satunya agar santri selamat dari COVID-19," imbuh Ngatiyana.
Saat ini, pandemi COVID-19 belum bisa dikendalikan di Kota Cimahi. Per hari ini, total sudah 1.309 warga Kota Cimahi yang terkonfirmasi positif virus korona. Jumlah total itu bertambah 28 kasus dari hari sebelumnya.
Dari jumlah total tersebut, sebanyak 451 masih terkonfirmasi positif aktif, atau bertambah 20 orang dari hari sebelumnya. Angka kematian pun bertambah 2 orang, sehingga totalnya menjadi 36 orang. Sementara jumlah kesembuhan hanya bertambah 6 orang sehingga totalnya mencapai 822 orang.
Dari ribuan kasus terkonfirmasi positif itu, salah satu klusternya berasal dari lingkungan pesantren. Menurut Ngatiyana, munculnya COVID-19 di pesantren bermula ketika santri pulang ke rumahnya.
"Anak kembali ke rumah anak-anak gak tau kondisi rumah, lingkungan seperti apa sehingga pas kembali (ke pesantren) tanpa sadar membawa bekal (virus)," beber Ngatiyana.
Kondisi tersebut, kata Ngatiyana, sudah disampaikan kepada para ulama dan umaro di Kota Cimahi. "Para ulama umaro dengan Pemkot Cimahi itu harus saling bersinergi. Kita harus terus berikhtiar dan berdoa, dan tidak lalai dalam menerapkan protokol kesehatan," tegasnya.
Selain itu, dalam kesempatan tersebut Ngatiyana membocorkan seputar rencana Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tatap muka di sekolah. Seperti diketahui, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sudah mengizinkan sekolah tatap muka Januari mendatang, yang disesuaikan dengan kondisi daerah masing-masing.
Untuk di Kota Cimahi, lanjut Ngatiyana, salah satu penentuan dibukanya kembali sekolah tatap muka tergantung dari koordinasi komite sekolah, pihak sekolah serta para orang tua siswa.
"Jadi harus ada izin orang tua sehingga bisa dilaksanakan. Apabila tidak mengizinkan, bisa secara daring. Jadi guru harus extra dengan belajar tatap muka dan daring," pungkasnya.