Sabtu, 2 Juni 2018 17:42

KOSPY: Palestina adalah Kita, Imperialisme Musuh Bersama

Reporter : Jumadi Kusuma
Pertunjukan Seni dan Diskusi bertajuk Palestina adalah Kita yang berlangsung di Gedung Indonesia Menggugat, Sumurbandung Kota Bandung, Sabtu (2/6/18).
Pertunjukan Seni dan Diskusi bertajuk Palestina adalah Kita yang berlangsung di Gedung Indonesia Menggugat, Sumurbandung Kota Bandung, Sabtu (2/6/18). [Limawaktu]

Limawaktu.id,- Komite Solidaritas palestina dan Yaman (KOSPY) menyeru organisasi masyarakat sipil pencinta keadilan dan anti imperialisme israel untuk mengenyampingkan segala perbedaan dan bersatu dalam agenda membela dan mendukung perjuangan serta perlawanan Bangsa Palestina dan bangsa lainnya yang tertindas.

Demikian petikan rekomendasi KOSPY pada Pertunjukan Seni dan Diskusi bertajuk Palestina adalah Kita yang berlangsung di Gedung Indonesia Menggugat, Sumurbandung Kota Bandung, Sabtu (2/6/18).

Baca Juga : Siswa SMP Al-Mukarramah Gelar Aksi Solidaritas untuk Palestina

Selain itu KOSPY mendesakkan agenda pengucilan Israel di dunia internasional dan
meminta Pemerintah Indonesia untuk meninjau kembali dukungannya kepada konsep “Solusi Dua Negara” yang semakin terlihat tak realistis.

Diskusi yang merupakan rangkaian Hari al-Quds Internasional tersebut diawali dan diselingi dengan pertunjukan seni serta dihadiri narasumber antara lain DR. Dina Y Sulaeman Direktur Indonesia Center for Middle East Studies, Ust. Sayyid Husein al-Kaff, MA, dan seniman Acil Bimbo, Iman Soleh dan Rahmat Jabaril.

Baca Juga : API Jabar Gelar Aksi Solidaritas untuk Palestina, Menentang Arogansi Amerika

Dalam pemaparannya Ust. Husein menerangkan Perspektif Agama dan Politik tentang Baitul Maqdis, sementara itu DR. Dina membongkar falasi logika para pembela Israel, tabir sejarah dan konflik palestina serta alasan pembelaan terhadap Palestina.

"Akhir-akhir ini, dunia disibukkan peristiwa Suriah dan Timur Tengah lainnya terkait ISIS, sehingga berita-berita tentang Palestina menjadi terabaikan, padahal kejahatan Israel terus berlangsung", terang Dina.

Baca Juga : Aksi Kutuk Donald Trump Digelar di Cimahi

Sementara itu menurut Husein yang terjadi di Palestina itu bukan konfik agama melainkan konflik politik yang dibungkus agama, karena dalam perspektif agama wilayah Palestina merupakan warisan tiga agama Ibrahim yaitu Yahudi, Kristiani dan Islam.

Terkait ikatan sejarah antara Palestina dan Indonesia yang membantu perjuangan kemerdekaan Indonesia pada 1944. Setelah merdeka, saat Indonesia membutuhkan pengakuan sebagai negara berdaulat, lagi-lagi rakyat Palestina bergerak, mendorong Mesir mengakui Indonesia.

Baca Juga : Aman Palestin-Indonesia Serukan Bantuan 1 Milyar Untuk Al-Aqsa

Pada 1960-an, giliran Indonesia menentang penjajahan Israel atas bangsa Palestina. Sikap itu ditunjukkan oleh Presiden RI Soekarno dalam sejumlah pidato di panggung-panggung internasional.

Dukungan Indonesia kepada Bangsa Palestina terus berlanjut disemua era pemerintahan, mulai kunjungan pertama kalinya pemimpin PLO (alm) Yasser Arafat dalam KTT Non-blok di Jakarta, dukungan Delegasi RI di PBB semasa masa pemerintahan SBY dalam menggalang simpati agar dijatuhkan sanksi tegas kepada Israel atas serangan militer ke Gaza dan blokade ekonomi kepada Palestina pada 2008, perjuangan di forum PBB yang berhasil memperjuangkan pengibaran secara resmi bendera Palestina di Markas Besar PBB, New York, AS, pada 2015.

Termasuk momen terbaru komitmen Indonesia untuk Palestina adalah peran aktif Presiden Joko Widodo untuk mendukung kemerdekaan Palestina, melalui KTT Luar Biasa OKI yang digelar di Jakarta.

Derita Bangsa Palestina

Penjajahan Israel atas Palestina merupakan aib besar sepanjang sejarah manusia modern pasca PD II. Aib yang dimulai dari Resolusi PBB 181/1947 yang menyetujui dibangunnya sebuah negara khusus Yahudi di atas tanah yang telah ditempati bangsa Arab Palestina selama ribuan tahun.

PBB mengalokasikan 56,5 persen wilayah Palestina untuk pendirian negara Yahudi, 43 persen untuk negara Arab, dan Jerusalem menjadi wilayah internasional. Tapi kelak, pada tahun 1967 –setelah terjadinya Perang 6 Hari Arab-Israel, Israel menduduki Sinai, Golan, dan seluruh wilayah Palestina.

Begitu Israel ‘disahkan’ untuk berdiri, pasukan Israel pun melakukan pengusiran dan pembunuhan orang-orang Palestina dari tanah mereka. Jutaan orang Yahudi dari berbagai penjuru dunia didatangkan untuk menjadi warga ‘negara’ yang baru berdiri itu.

Untuk menjustifikasi kisah kelam di balik berdirinya Israel, berbagai upaya pengaburan sejarah dan distorsi opini dilakukan. Akibatnya, sebagian orang masih memandang Israel sebagai entitas yang perlu diakui ‘hak’-nya.

Berdasarkan laporan Sekjen PBB kepada Dewan Keamanan pada April 2016, sepanjang tahun 2015, ada 30 anak Palestina yang tewas dan minimalnya 1.735 anak terluka, terutama di Tepi Barat, termasuk Jerusalem Timur. Kebanyakan dari angka itu adalah korban tembakan tentara Israel.

Di antara mereka, ada 14 anak Palestina yang melakukan atau dicurigai akan melakukan penikaman terhadap warga Israel dan kemudian ditembak mati oleh IDF.
Korban kekerasan yang dilakukan Israel tidak hanya anak-anak, namun anak-anaklah yang menjadi korban terbanyak.

Pada tahun 2014 saja, ada 556 anak di Jalur Gaza tewas akibat serangan Israel, 3.312 anak lainnya mengalami luka-luka. Agresi Israel ini juga menghancurkan rumah-rumah yang di dalamnya bernaung 125.079 anak-anak. Tahun 2014 menjadi tahun paling brutal bagi anak-anak Palestina, sejak 1967. Dalam rentang Oktober 2015-Maret 2016, ada 2100 anak Palestina yang terluka di Tepi Barat akibat serangan Israel (laporan PBB).

Terbaru Pasukan Pertahanan Israel (IDF) membunuh setidaknya 55 warga Palestina dan melukai 2.700 lainnya di perbatasan Gaza-Israel pada Senin (14/5/18), bersamaan dengan pemindahan keduataan Amerika dari Tel Aviv ke Yerusalem. Korban luka-luka termasuk 74 anak-anak dan 23 perempuan.

Hari Al Quds Internasional

Di hadapan kejahatan kemanusiaan Israel, dunia seperti tidak berdaya. Dewan Keamanan PBB hanya mampu mengeluarkan resolusi-resolusi lunak yang tidak ada manfaatnya. Kalaupun ada upaya bersikap lebih tegas kepada Israel, sekutu setianya, AS, segera memveto.

Di tengah semua pengabaian ini, ada suara yang terus digemakan secara konsisten sejak kemenangan Revolusi Islam Iran tahun 1979, yaitu Peringatan Hari Al Quds (Al Quds Day). Peringatan ini merupakan momen pernyataan solidaritas kepada Palestina dan perlawanan terhadap Israel dan para pendukungnya.

Baca Lainnya