Jumat, 5 Oktober 2018 14:11

Kok, Siswa SD di Cimahi Berlindung di Kolong Meja

Reporter : Fery Bangkit 
Para Siswa SD Juara, Jln. Rorojongrang, Kota Cimahi Tengah Melakukan Simulasi Bencana, Jum'at (5/10/2018).
Para Siswa SD Juara, Jln. Rorojongrang, Kota Cimahi Tengah Melakukan Simulasi Bencana, Jum'at (5/10/2018). [Fery Bangkit/Limawaktu]

Limawaktu.id, Cimahi - Sirine panjang tanda bahaya berbunyi di area Sekolah Dasar (SD) Juara, Jln. Rorojongrang, Komplek Perumahan Pharmindo, Kelurahan Melong, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Jum'at (5/10/2018).

Seluruh siswa sontak berhamburan dan berlindung di meja belajar atau di sudut-sudut ruangan. Sambil memegangi tas di atas kepala agar tak tertimpa reruntuhan.

Anggota dari Satuan Tugas (Satgas) Taruna Siaga Bencana (Tagana), dan guru SD Juara, berusaha tidak panik sambil terus menenangkan anak-anak sekolah dari kelas 1 hingga kelas 6.

Tak lama kemudian, sirine berhenti berbunyi. Para siswa pun menghela nafas panjang, yang artinya simulasi sudah berakhir. Satu persatu, murid yang sedang berada di dalam kelas diturunkan ke tengah lapangan sekolah. 

Sekitar 150 murid SD Juara yang berada di bawah naungan Rumah Zakat, akhirnya berhasil dievakuasi seluruhnya tanpa ada kekurangan seorang murid pun. Seorang murid kelas 4, tampak menangis karena ketakutan. Ya, datangnya bencana memang tak bisa diprediksi. Seperti bencana gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Selatan.

Hermawan, Koordinator Psikososial Satgas Tagana Kota Cimahi, mengungkapkan simulasi kebencanaan, khususnya gempa bumi, saat penting diberikan terutama pada murid-murid sekolah dasar, di tengah ancaman bencana yang bisa terjadi kapan pun tanpa ada pemberitahuan.

"Semakin dini seorang anak paham cara mengevakuasi diri ketika terjadi bencana, seperti gempa bumi, maka semakin kecil potensi korban jiwa yang bisa timbul pascakejadian bencana," ungkap Hermawan saat ditemui di sela-sela kegiatan.

Menurutnya, murid SD paling penting mengetahui bagaimana cara berlindung saat bencana dan bertahan hidup pascabencana, terutama ketika mereka sedang berada jauh dari orangtua.

"Misalnya di sekolah, mereka pasti akan panik karena tidak ada orangtua, sedangkan guru jumlahnya terbatas. Tahap awal, misalnya ketika gempa mereka harus paham dimana harus berlindung, kalau gempanya agak lama jangan panik, kalau sudah reda ikuti instruksi guru untuk turun pelan-pelan lewat tangga," jelasnya.

Sementara itu, Kepala Sekolah SD Juara, Nurzaman, mengatakan jika guru di sekolah yang dipimpinnya wajib menguasai cara evakuasi diri dan anak-anak yang menjadi tanggung jawabnya.

"Kalau bukan mereka yang menenangkan, siapa lagi. Orangtua pastinya sangat bergantung pada guru ketika bencana terjadi. Tapi bukan berarti guru mengorbankan diri demi murid," tuturnya.

Selain menguasai cara mengevakuasi, seorang guru juga mesti memahami cara memberikan trauma healing pada murid yang jadi korban bencana.

"Anak-anak butuh bimbingan dan sosok yang bisa mengembalikan semangat dan mengobati trauma mereka. Tadi guru-guru dibekali cara trauma healing oleh Tagana, dan memang butuh waktu lama untuk mengobati trauma anak-anak," tandasnya.

Baca Lainnya