Senin, 5 Maret 2018 17:59

Kisah Pelajar di Bandung Barat yang jadi Mucikari Gadis Dibawah Umur Sejak Usia 15 Tahun

Reporter : Fery Bangkit 
Pelajar Berinisial MR (16) Asal Bandung Barat Yang Menjadi Mucikari Atau Penjual Jasa Seks Dibawah  Umur Sedang Diperiksa Oleh Petugas Polres Cimahi.
Pelajar Berinisial MR (16) Asal Bandung Barat Yang Menjadi Mucikari Atau Penjual Jasa Seks Dibawah Umur Sedang Diperiksa Oleh Petugas Polres Cimahi. [Limawaktu]

Limawaktu.id - MR, pelajar salah satu sekolah di Kabupaten Bandung Barat kini ditetapkan sebagai tersangka. Pelajar yang masih berusia 17 Tahun ini sudah dua tahun menjadi Mucikari atau penjaja gadis DIbawah Umur untuk hidung belang.

Menurut Kasatreskrim Polres Cimahi, AKP Niko N. Adiputra, MR tidak akan berani 'menjual' orang yang tidak dikenalnya. Artinya, korban harus mau untuk melayani tanpa ada paksaan.

"Jika tidak mau melayani berarti tidak akan mendapatkan uang, dan korban hanya mendapatkan uang 500 ribu tapi kalau ingin lebih bisa mendapatkan 1,5 juta ya itu tergantung bagaimana nego dengan pembelinya," kata Niko saat dihubungi melalui sambungan telepon, Senin (5/3/2018).

Kedok bisnis layanan haram ala MR sendiri baru terbongkar Satreskrim Polres Cimahi beberapa hari lalu, setelah mendapat laporan dari masyarakat.

Berbekal melek teknologi, khususnya media sosial, tersangka itu dengan lihai menawarkan korban kepada hidung belang.

Ketika ditanya apakah pihak keluarga pelaku maupun korban mengetahui perilaku Anak-anak mereka, Niko menjelaskankan pengawasan dari keluarga mereka sangat lemah, sehingga pelaku maupun kprban dengan leluasa menjalani tindakan menyimpang tersebut.

Statusnya sebagai siswi di salah satu SMK yang dalam waktu dekat akan menghadapi Ujian Nasional, Niko mengatakan pihaknya akan melibatkan Dinas Pendidikan terkait untuk menentukan mekanismenya.

Niko mengatakan bisa saja tersangka MR menjalankan UN di dalam penjara, atau opsi lain bisa dikeluarakan dulu untuk sementara waktu. Namun, pihak kepolisian akan tetap melakukan penegakan hukum.

"Masalah dia bisa melanjutkan sekolahnya atau tidak nanti akan kita lihat, intinya kita akan koordinasikan tapi bukan pada leading sektornya. Yang pasti kita memperoses dan memberikan ruang dengan hak seseorang Anak Berhadapan Hukum (ABH)," tandasnya.

Baca Lainnya