Rabu, 19 Desember 2018 10:42

Kisah Anak 9 Tahun Asal KBB, Nelen Peluit Keluar Suara Terompet

Reporter : Fery Bangkit 
 Asep Yahya (9), warga Kampung Cimalang, RT 1 RW 5, Desa Girimukti, Kecamatan Saguling, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Asep Yahya (9), warga Kampung Cimalang, RT 1 RW 5, Desa Girimukti, Kecamatan Saguling, Kabupaten Bandung Barat (KBB). [Fery Bangkit/Limawaktu]

Limawaktu.id - Sekilas, Asep Yahya (9), warga Kampung Cimalang, RT 1 RW 5, Desa Girimukti, Kecamatan Saguling, Kabupaten Bandung Barat (KBB) nampak seperti bocah lainnya.

Namun, ada suara aneh dari mulutnya ketika ia mengeluarkan nafas. Suaranya mirip terompet, namun ternyata bukan terompet. Melainkan peluit yang tak sengaja ia telan dua bulan lalu, tepatnya 14 Oktober 2018 saat ia bermain bersama anak dari bibinya.

Ketika ditemui di kediamannya, Selasa (18/12/2018), siswa kelas V SDN Jalupang Girimukti itu terlihat baik-baik saja dan sedang bermain bersama saudara kandungnya sambil sesekali berlari dan tertawa. Namun, ketika dia menarik napas panjang terdengar bunyi seperti terompet.

Subandi (54), ayahanda Asep, menuturkan mulanya anak laki-lakinya tersebut meminta izin untuk bermain di rumah bibinya. Tak berselang lama, sambung dia, bibinya tiba-tiba datang ke rumah dan memberi tahu jika anaknya menelan peluit yang ukurannya tidak terlalu besar.

"Dia lagi main sama anak bibinya. Anaknya bilang, Asep pangku terus peluit itu tiba-tiba ketelen. Bibinya datang dan bilang Asep menelan peluit," kata. Subandi.

Lalu, Subandi segera membawa anaknya berobat ke Puskesmas Saguling untuk diberi penanganan pertama. Namun, kata dia, karena alat yang tersedia di sana tidak memadai, anaknya diberi rujukan ke Rumah Sakit Cahya Kawaluyan (RSCK) yang terletak di Kota Baru Parahyangan, Kecamatan Padalarang. Ketika itu, Subandi mengaku belum membuat BPJS sehingga memilih untuk berobat ke orang yang dipercaya di kampungnya tapi bunyi terompet tersebut tak kunjung menghilang.

"Katanya, ini harus dibawa ke Kota Baru. Itu kan memerlukan biaya. Sempat berobat di kampung dulu tapi tetap saja," jelas dia.

Setelah itu, Subandi memutuskan untuk membuat BPJS dan segera membawa anaknya ke RSCK. Di sana, sambung dia, anaknya dirujuk ke dokter anak dan THT sebelum dirujuk kembali untuk ditangani di Rumah Sakit Hasan Sadikit (RSHS) Kota Bandung. Hingga saat ini, dia belum membawa anaknya ke RSHS karena letaknya jauh dari rumahnya dan terkendala biaya.

"Terus membuat BPJS dan dikasih rujukan ke Kota Baru. Di Kota Baru dirujuk ke dokter anak terus ke THT. Terus disuruh dirujuk ke Hasan Sadikin. Nah, setelah dikasih rujukan mentok. Dari mana uangnya," katanya.

Untuk permasalahan yang menimpah anaknya, ia sempat mengadu kepada kepala desa. Dia pun mengaku diberi uang oleh sejumlah Rp 200 ribu untuk membawa anaknya ke Kota Bandung.

"Sudah berbicara dengan Kades. Terus dikasih uang 200. Bilang pake ojeg. Tapi uang segitu untuk ke Bandung masih kurang. Kalau nyarter mobil dari sini ga akan ada yang sanggup," tutur dia.

Subandi mengatakan bunyi seperti terompet itu kerap terdengar ketika anaknya menangis atau sedang tertidur. Selain itu, kata dia, anaknya juga mengaku kerap merasa sesak jika berjalan jauh.

Akibat bunyi terompet itu pula, Subandi mengaku jika anaknya merasa malu sering diolok-olok oleh teman-temannya di sekolah sehingga kerap bolos. Sejak kejadian tersebut, kata dia, anaknya hanya bersekolah satu atau dua kali saja dalam satu minggu.

"Sekolah juga berhenti dulu minder soalnya suka dicandai sama temennya. Kadang seminggu dua hari sekolah, kadang tidak sekolah sama sekali," pungkas dia.

Baca Lainnya