Senin, 19 Maret 2018 13:12

Jelang Hari Air Sedunia, Badan Geologi Ekpose Kondisi dan Regulasi tentang Air

Reporter : Jumadi Kusuma
Badan Geologi KESDM mengadakan Konferensi Pers dengan tema Air Tanah, Alam dan Kehidupan, Senin (19/3/18) bertempat di Media Center PATGTL di Jalan Diponegoro No. 57 Bandung.
Badan Geologi KESDM mengadakan Konferensi Pers dengan tema Air Tanah, Alam dan Kehidupan, Senin (19/3/18) bertempat di Media Center PATGTL di Jalan Diponegoro No. 57 Bandung. [Limawaktu]

Limawaktu.id,- Menyambut Hari Air Dunia, yang jatuh pada tanggal 22 Maret 2018 Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) mengadakan Konferensi Pers dengan tema Air Tanah, Alam dan Kehidupan, Senin (19/3/18) bertempat di Media Center Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan (PATGTL) di Jalan Diponegoro No. 57 Bandung. Acara dihadiri oleh lebih kurang 21 media cetak, TV, Radio dan Online.

Konferensi Pers dipimpin oleh Kepala PATGTL, Andiani, didampingi Kepala Bidang Air Tanah, Wahyudin dan Kepala Sub Bidang Inventarisasi dan Konservasi Air Tanah, Idham Effendi serta Kepala Bagian Umum Sekretariat Badan Geologi, Joko Parwata sebagai Moderator.

Pada kesempatan ini Andiani mewakili Kepala Badan Geologi menjelaskan Air tanah merupakan sumber air terpenting untuk penyediaan air bersih bagi kehidupan. Sebagai salah satu sumber daya alam, ketersediaan air tanah harus tetap dijaga.

"Proses pembentukan air tanah membutuhkan jangka waktu yang cukup lama bisa bulanan hingga ribuan tahun, tergantung curah hujan dan kondisi hidrogeologi daerah setempat. Dengan kondisi geologi Indonesia yang cukup rumit dan bervariasi, potensi ketersediaan air tanah juga sangat variatif, ini ditunjukkan pada peta hidrogeologi Indonesia sebagai gambaran potensi ketersediaan air tanah di Indonesia", jelas Andiani.

Badan Geologi KESDM melalui PATGTL mempunyai tugas penting dalam pengelolaan air tanah. Sebagaimana tertuang dalam UU No. 11 Tahun 1974 tentang Pengairan sebagai landasan utama dan Peraturan Pemerintah (PP) No. 22 Tahun 1982 sebagai peraturan pelaksanaannya, disebutkan bahwa pengurusan administratif atas sumber air bawah tanah menjadi wewenang Menteri yang bertanggungjawab dalam bidang pertambangan yakni Kementerian ESDM.

Beberapa regulasi pengelolaan air tanah di Indonesia telah diterbitkan, antara lain:

PP No. 121 Tahun 2015 tentang Pengusahaan Sumber Daya Air. Salah satunya adanya ketentuan tentang pemberian rekomendasi teknis untuk izin pengusahaan air tanah berdasarkan Cekungan Air Tanah sesuai dengan kewenangannya.

Permen ESDM No. 02 Tahun 2017 tentang Cekungan Air Tanah di Indonesia, yang menetapkan 421 CAT di Indonesia yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia dengan luas dan karakteristik air tanah yang berbeda-beda.

Permen ESDM No. 20 Tahun 2017 tentang Pedoman Nilai Perolehan Air Tanah (NPA). Berisi tentang pedoman penyusunan NPA untuk Provinsi yang menjadi dasar perhitungan pajak air tanah yang merupakan salah satu pajak daerah.

Peta Zona Konservasi Air Tanah juga merupakan salah satu produk utama Badan Geologi yang menunjukkan tingkat kerusakan air tanah baik secara kualitas maupun kuantitas, yang disusun berdasarkan cekungan air tanah (CAT) dan sudah ditetapkan oleh Menteri ESDM melalui Peraturan Menteri ESDM No 2/2017.

"Beberapa CAT, terutama yang berada di kota besar sudah menunjukkan tingkat kerusakan yang cukup berarti; seperti CAT Jakarta, CAT Serang - Tangerang, CAT Bandung - Soreang dan CAT Denpasar-Tabanan", tuturnya.

Selain tingkat kerusakan kondisi air tanah yang terus meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah penggunaan air tanah, kondisi ini juga dapat memicu peningkatan laju penurunan tanah (land subsidence) dan semakin jauhnya penyusupan (intrusi) air laut (asin) ke daratan.

Badan Geologi juga mempunyai progam unggulan pelayanan air bersih di daerah sulit air melalui pengeboran air tanah. Dalam kurun tahun 2005 - 2017 telah menyediakan 1.782 unit sumur bor tersebar di 312 kabupaten dan kota di seluruh Indonesia.

Secara keseluruhan kapasitas produksi dari seluruh sumur tersebut mencapai 100 juta m3/ thn dan dapat melayani hingga 5 juta jiwa penduduk di berbagai daerah sulit air.