Sabtu, 19 Januari 2019 16:16

Ironi Petani Cimahi, jadi Tamu di Rumah Sendiri

Reporter : Fery Bangkit 
Sekitar 1 Hektare Lahan Sawah Yang Tersisa Di Kelurahan Pasir Kaliki Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi.
Sekitar 1 Hektare Lahan Sawah Yang Tersisa Di Kelurahan Pasir Kaliki Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi. [Limawaktu]

Limawaktu.id - 'Jadi tamu di rumah sendiri', sepertinya istilah itu patut untuk menggambarkan para petani sawah di Kota Cimahi.

Alasannya cukup sederhana. Petani sawah di Kota Cimahi ternyata selama ini hanyalah jadi penggarap atau seperti tamu, bukanlah pemilik atau tuan rumah atas sawah yang mereka tanami padi selama ini. 

Baca Juga : Hasil Panen Tak Bisa Penuhi Kebutuhan Pokok, Cimahi Masih Andalkan Pasokan

Sedangkan tuannya atau pemilik sawah yang mereka jaga, yang mereka tanami ternyata kebanyakan berasal dari luar Kota Cimahi. Mungkin itu dianggap hal wajar, mengingat saat ini uanglah yang banyak berbicara.

Lahan pertanian di Kota Cimahi memang harus diakui sangatlah terbatas. Tercatat hanya ada 137,14 hektare saja. Sebanyak 85,42 hektare berada di wilayah Cimahi Utara, sebanyak 46,3 hektare di wilayah Cimahi Selatan serta 4,42 hektare di wilayah Cimahi Tengah.

Baca Juga : Hasil Panen Padi di Cimahi Meningkat di Lahan Terbatas

Dan hampir semua lahan sawah itu dikuasi dari luar Kota Cimahi. Sementara penggarapnya adalah petani Cimahi.

Eman (65), warga Kelurahan Pasirkaliki, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi salah satunya. Ia menjadi petani sejak tahun 1970-an, mengikuti jejak orang tuanya. Namun, bukan sebagai pemilik, melainkan hanya penggarap sawah saja.

"Jadi petani dari tahun 70-an, cuma penggarap saja, punya dunungan (majikan) orang Bandung," tutur Eman, yang saat ditemui tengah mencangkul sawah.

Selain Eman, memang kebanyakan petani sawah di Kota Cimahi hanyalah penggarap. Di sawah yang ia garap milik warga Kota Bandung saja, semuanya penggarap, bukan pemilik.

"Selain Abah (Eman), ada 3 (tiga) lagi yang kerja di sini," ucapnya.

Penghasilan yang ia dapat dari bertani atau penggarap memang tak besar bahkan cenderung sangat kecil. Hanya cukup untuk makan sehari-hari saja. Dalam sekali panen, Eman hanya bisa membawa pulang sekitar Rp700.000. Itupun jika hasil panen padinya sedang bagus.

Sementara jika hasil panen padinya sedang buruk, maka Eman hanya bisa membawa uang Rp500.000 per sekali panen. Dalam setahun, paling banyak panen padi hanyalah dua kali.

Pundi-pundi rupiah itu didapatkan Eman dari lahan milik warga Bandung yang ia garap bersama tiga rekannya. Dulunya, lahan sawahnya mencapai 1 hektare lebih, tapi sekarang sudah terkikis oleh jalan tol dan pembangunan lainnya. 

"Iya hasilnya, kala sekali panen itu paling 3-4 ton kalo lagi bagus. Paling bisa dapat Rp 700 ribu. Kalau lagi jelek, paling 2 ton," beber Eman.

Panen terakhir dua minggu lalu, lanjut Eman, tak sesuai yang diharapkan. Karena faktor cuaca, sawah yang ia garapnya pun tak terlalu menghasilkan padi yang cukup banyak. "Abah kebagian ngagarap (menggarap) 2 (dua) kotak sawah," tandasnya.

Disinggung mengenai bantuan dari pemerintah, Eman tak berharap banyak. Ia cukup bersyukur dengan apa yang didapatnya dari bertani, meski hanya seorang penggarap.

Durahman (50), petani lainnya mengaku, ia pun hanya sebagai penggarap. Sedangkan pemiliknya merupakan warga luar Kota Cimahi. Durahman merupakan penggarap sawah di sekitar Jalan Aruman, Kelurahan Cibabat, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi.

"Saya cuma menggarap aja. Yang punya mah bukan orang sini," ujarnya.

Sementara itu, berdasarkan data Dinas Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Cimahi, jumlah petani sawah di Kota Cimahi mencapai 383 orang. Namun, dari jumlah itu, kebanyakan hanyalah penggarap saja.

"Jumlah petani sawah ada 383. Kebanyakan penggarap, hampir 90 persen," terang Mita Mustikasari, Kepala Bidang Pertanian pada Dispangtan Kota Cimahi. 

Baca Lainnya