Jumat, 3 November 2017 14:26

Ini Dia Dampak Bahayanya Polusi Batu Bara dari Pabrik di Cimahi

Ditulis Oleh Fery Bangkit 
Asap Yang Ditimbulkan  dari Cerobong Sebuah Pabrik Berbahan Baku Batu Bara.
Asap Yang Ditimbulkan dari Cerobong Sebuah Pabrik Berbahan Baku Batu Bara. [Mongabay]

Limawaktu.id – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cimahi mengungkapkan, asap yang ditimbulkan  dari cerobong pabrik berbahan baku batu bara sangat berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan manusia.

Bagi lingkungan, polusi yang ditimbulkan dari pembuangan cerobong pabrik berbahan bakar batu bara akan menyebabkan kesuburan tanah bekurang, pucuk-pucuk pohon sulit tumbuh serta bisa menyebabkan monumen dari tembaga rusak.

Kepala Bidang Tata Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup Kota Cimahi, Rahman mengatakan, secara alamiah batu bara di Indonesia itu mengandung sulfur. Jika sulfur tersebut teremisi ke udara dalam bentuk gas dan menyatu dengan air hujan, maka akan membentuk asam sulfat, yang akan menyebabkan hujan asam.

“Air hujan yang sudah terkontaminasi sama gas-gas yang udah terlarut, sehingga bisa menyebabkan hujan asam, yang menjadikan kesuburan tanah berkurang. Juga pohon-pohon, terutama pucuk susah tumbuhnya,” jelas Rahman, Jum’at (3/11/2017).

Sementara bagi manusia, kata Rahman, polusi yang ditimbulkan dari asap batu bara jelas sangat membahayakan bagi kesehatan. Imbas paling fatalnya bisa menyebabkan Inspeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

“Kalau dampak langsung ke kesehatan mah jelas, karena bisa terisap. Kalau dari emisi cerobong misalnya itu ada partikel-partikel halus itu bisa masuk ke paru dan bisa mengganggu kesehatan,” ujarnya.

Dikatakannya, pabrik yang menggunakan bakar dasar batu bara di Kota Cimahi mencapai 50 perusahaan.

Diklaimnya, puluhan pabrik tersebut harus melakukan uji labolatorium terhadap pembuangan limbah pabrik dalam kurun waktu setahun dua kali.

“Untuk pembuangan, mereka harus melakukan self monitoring. Jadi pengujian oleh mereka itu 6 (enam) bulan sekali, mereka rutin harus memeriksakan emisi cerobong maupun udara ambiennya dan harus dilaporkan ke Dinas Lingkungan Hidup. Selama ini mereka taat membuat laporan monitoring,” tandasnya. (kit)

Rustan Abubakar Al Iskandari
Rustan Abubakar Al Iskandari

Hadduuuuuuuh

3 November 2017 9:03 Balas