Selasa, 9 April 2019 13:11

Idap Hidrosefalus, Bocah 7 Tahun di KBB Hanya Bisa Ucap 'Mamah Bapak Teteh'

Reporter : Fery Bangkit 
Mirna Wati Bocah berusia 7 tahun asal Kampung Pasirjati, Desa Citatah, Kabupaten Bandung Barat (KBB) itu mengalami penyakit hidrosefalus.
Mirna Wati Bocah berusia 7 tahun asal Kampung Pasirjati, Desa Citatah, Kabupaten Bandung Barat (KBB) itu mengalami penyakit hidrosefalus. [ferybangkit]

Limawaktu.id - Nasib malang harus dialami Mirna Wati. Bocah berusia 7 tahun asal Kampung Pasirjati, Desa Citatah, Kabupaten Bandung Barat (KBB) itu mengalami penyakit hidrosefalus.

Kepala Mirna mulai membesar sejak usia tiga bulan. Penyumbatan di dalam otak oleh cairan sejak membuat kondisinya lunglai. Matanya terlihat sayu.

Sebab bobot kepalanya, anak keempat dari pasangan Cucun (45) dan Nyi Ade (42) itu hanya bisa tidur terlentang. Sesekali tangannya bergerak spontan. Dalam hatinya, mungkin ia sedang bermimpi bermain dan berlarian, seperti bocah seusianya.

"Anak kami tidak bisa jalan, kepala bagian belakangnya lembek dan seperti ada lubang sebuku jari," kata Cucun, belum lama ini.

Awalnya, Mirna terlahir secara normal. Namun, saat usianya tiga bulan, tiba-tiba buah hatinya itu mengalami kejang-kejang dan demam. Sedikit demi sedikit, kepalanya pun mulai membesar.

"Awalnya di bagian depan juga menonjol," ucapnya.

Penyakit yang dialami Mirna pun mulai berdampak terhadap terhadap fungsi tubuh lain. Ia tak bisa berbicara secara normal dan jelas. Hanya beberapa kata saja yang bisa diucapkannya.

"Paling hanya bisa mengatakan mamah, bapak, teteh, selebihnya tak bisa," ujarnya.

Lebih menyedihkannya lagi, Mirna pun kerap mengalami kejang. Kondisi itu jelas membuat kedua orang tuanya selalu dihinggapi perasaan cemas. Dari ekspresi yang terlihat, kata Cucun, seolah ada rasa ketakutan yang tengah dialami putrinya itu.

"Saya selalu berdoa, Ya Allah berikan anak saya kesembuhan," tuturnya.

Mirisnya, bocah Mirna belum pernah mendapatkan penanganan lanjutan dari dokter ahli hingga sekarang. Mirna pernah dibawa ke rumah sakit.

Bahkan, sudah empat kali dokter yang memeriksa Mirna datang datang ke rumahnya untuk memeriksa kondisi buah hatinya. Menurut dokter, terdapat tempurung tengkorak Mirna pecah. Namun, dokter itu tak pernah datang lagi untuk mengecek kondisi Mirna.

"Karena saya juga sudah habis biaya. Kami juga pernah berobat ke tabib di Cianjur, tapi belum ada hasilnya," ujar Cucun.

Untuk menutupi biaya berobat anaknya, Cucun pernah mengajukan program JKN-KIS pemerintah desa setempat. Namun sudah tiga bulan belum ada respon. Keterbatasan ekonomi, khususnya Cucun yang hanya buruh tani memaksanya untuk mencari bantuan, termasuk pembuatan JKN-KIS.

Meski dengan keterbatasan yang ada, Cucun berharap buah hatinya itu bisa kembali sehat dan menjalani hidup seperti kebanyakan anak seusianya. "Saya selalu kepikiran, mau digendong sudah tidak kuat, sempat punya kursi roda tapi sekarang sudah tidak muat," lirihnya.

Baca Lainnya