Limawaktu.id - Harga sejumlah komodintas pertanian di tingkat petani Kabupaten Bandung Barat (KBB) anjlok sejak Juli 2019. Akibatnya, petani mengalami kerugian materil. Ketua Kelompok Tani Tridas Jayasari Desa Cibodas, Kecamatan Lembang KBB Tihar (48) mengatakan, sejak bulan Juli harga jual berbagai komoditi sayuran menurun drastis. Penurunan harga sayuran ini dirasakan semakin mempersulit keadaan yang dibenturkan dengan persoalan kemarau panjang.
"Ada pengaruh (musim kemarau) ke harga sayuran, saat ini hampir semua komoditi sayuran anjlok," kata Tihar saat ditemui di Desa Cibodas Lembang, Kab. Bandung Barat, Senin (9/9/2019). Harga berbagai jenis sayuran seperti kembang kol yang normalnya seharga Rp 4-5 ribu per kilogram (kg) sekarang hanya Rp 1 ribu per kg. Sawi Rp 4 ribu per kg kini hanya Rp 1 ribu per kg. Letus Rp 12 ribu per kg turun ke harga Rp 4 ribu per kg. Kol yang normal harganya Rp 4 ribu per kg turun menjadi Rp 2 ribu per kg.
"Paling drastis anjloknya untuk tomat, itu kan normalnya Rp 5-6 ribu sekilo, sekarang cuma Rp 5 ratus rupiah perkilonya, jadi kebanyakan dibiarkan saja sama petaninya gak dipanen," ungkapnya. Diterangkan dia, merosotnya berbagai komoditi sayuran diakibatkan melimpahnya suplai sayuran dari berbagai daerah di Indonesia. Meskipun para petani saat ini dilanda kesulitan sumber air untuk pertanian akibat persediaan air musim kemarau yang menurun.
"Musim kemarau ya, otomatis para petani muter otak mencari sumber air supaya masih bisa memanfaatkan lahan untuk tetap bertani, bahkan ada yang sampai beli air untuk menyiram tanaman," ujarnya.Meski begitu, jelasnya, tidak semua komoditi sayuran anjlok. Seperti harga cabe rawit yang kini berada di harga Rp 60 ribu per kg dan cabe keriting yang tetap berada di harga Rp 50 ribu/Kg.
"Tapi cuma dua komoditi itu saja yang harganya bagus, yang lainnya ya, ambruk harga jualnya," ucapnya. Dengan kondisi harga jual sayuran saat ini, terang Tihar, ia beserta petani lainnya mengalami kerugian materi. Pasalnya untuk menanam di lahan 100 tumbak saja biaya untuk memulsa dan pemupukan memakan biaya Rp 10 juta, bibit dan tenaga kerja Rp 650 ribu, serta biaya tanam Rp 200 ribu.
"Imbasnya ya para petani kerugian karena untuk modalnya saja tidak kembali dengan anjloknya harga sayuran ini," ucapnya.Diharapkan dia, pemerintah harus jeli dalam membuat regulasi supaya harga jual dari petani tidak menjadi kerugian untuk para petaninya sendiri. "Semakin sulit dengan kondisi saat ini dikarenakan tidak ada jaminan pemerintah ketika harga jual sayuran mengalami penurunan seperti sekarang ini," tandasnya.