Selasa, 21 Mei 2019 17:59

Harga di Atas HET, Operasi Murah di Cimahi Tanpa Bawang Putih

Reporter : Fery Bangkit 
Wali Kota Cimahi, Ajay Muhammad Priatna Saat Di Operasi Pasar Murah (OPM).
Wali Kota Cimahi, Ajay Muhammad Priatna Saat Di Operasi Pasar Murah (OPM). [ferybangkit]

Limawaktu.id - Upaya pemerintah menekan harga jelang lebaran lewat Operasi pasar Murah (OPM) agaknya masih setengah hati. Sebab, bahan kebutuhan pokok yang harganya melambung tinggi justru tak disediakan dalam operasi murah.

Komoditas yang tak disediakan dalam OPM tahun ini adalah bawang putih jenis kating. Saat ini, harga komoditas itu masih dijual Rp40.000/kilogram untuk tingkat eceran. Padahal, Harga Eceran Tertinggi (HET) hanya Rp32.000/kilogram.

Baca Juga : Dibuka Wali Kota, OPM Spesial Ramadan di Cimahi Resmi Dimulai

Dalam operasi pasar murah yang berlangsung di Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi, Selasa (21/5/2019), pihak penyelenggara hanya menyediakan tiga kebutuhan pokok, yakni beras premium, minyak goreng dan gula pasir.

Arsinah (45), salah seorang warga Cibabat, Kota Cimahi penerima kupon OPM bersubidi itu mengaku sebetulnya ia menyambut baik kegiatan ini. Apalagi harganya jauh di bawah pasar. 

Baca Juga : Pemkot Cimahi Hanya Ambil Tiga Jatah Komoditi untuk OPM

"Ya, alhamdulillah, mudah-mudahan sering ada. Tapi sayang bawang putihnya gak ada," katanya.

Di tempat sama, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Barat, M Arifin mengatakan, stabilitas harga kebutuhan pokok di Jawa Barat cenderung stabil pada kuartal pertama tahun 2019.

Baca Juga : Pemkot Cimahi Gelar OPM, ini Jenis Kebutuhan dan Harga Lengkapnya!

"Harga stabil, namun terjadi gejolak bawang putih menjelang Ramadhan," kata Arifin.

Sebelumnya, harga bawang putih mencapai angka Rp 90 ribu perkilogram di Jawa Barat. Kebanyakan pedagang mengeluhkan minimnya stok bawang putih di pasar induk.

"Untuk kebutuhan bawang putih nasional, termasuk di Jawa Barat 90 persennya mengandalkan bawang putih impor, mau bagaimana pun akan tetap bergantung kepada bawang impor," kata Arifin.

Menurut Arifin, pemerintah baru membuka kran impor pada akhir April yang berimbas pada ketidaktersediaan bawang putih di sejumlah tempat.

"Ketika itu terjadi proses supply and demand, " ucapnya.

Oleh karena itu, ujar Arifin, Kementerian Pertanian menetapkan agar semua importir menanam 5 persen dari jumlah komoditas impor di Indonesia. "Jadi mereka mengimpor berton-ton, nah lima persennya harus ditanam di Indonesia, seperti di Cimenyan," katanya.

Menurutnya, bawang putih yang ditanam di Cimenyan berhasil dipanen, namun bukan untuk dijual. "Ini untuk ditanam dan dibudidayakan," katanya.

Baca Lainnya