Rabu, 28 Februari 2018 11:55

Gerakan Shalat Subuh Berjamaah Jangan Dipolitisasi Untuk Kepentingan Pilkada

Reporter : Jumadi Kusuma
Pengajian Kebangsaan.
Pengajian Kebangsaan. [Limawaktu]

Limawaktu.id,- shalat subuh berjamaah di masjid berdasarkan syariat Islam sangat dianjurkan, sayangnya akhir-akhir ini disinyalir ditunggangi oleh kekuatan politik tertentu untuk mengarahkan jamaah memilih pasangan calon pada pilkada 2018.

Fenomena tersebut menurut KH. A. Dasuki tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU) menyatakan bahwa gerakan sholat subuh harus tulus tidak boleh dipolitisasi.

"Shalat subuh berjamaah niat harus tulus, tidak boleh disusupi oleh kepentingan politik sesaat kelompok tertentu, terutama menggiring opini bahwa hanya kelompok politik nyalah yang merupakan representasi umat", katanya yang Ketua Aswaja Center Jawa Barat ini.

Indikasi shalat subuh yang dipolitisasi bisa dilihat dari isi ceramahnya.

"Indikasinya, bisa berupa ceramah-ceramah baik itu pengajian maupun khutbah yang menggiring opini pada kepentingan politik tertentu. Bisa jadi hal itu dilakukan secara terang-terangan, namun arahnya pada upaya mobilisasi pada kepentingan tertentu, yang dikhawatirkan akan terjadi perpecahan ditingkatan jamaah", jelasnya.

Menurutnya dalam syariat Islam ada kaidah hukum yang mewajibkan mengindari kemudharatan dalam berdakwah.

"Substansi syariat Islam itu kan Jalbul Masholih wa daf'ul Mafasid, yaitu mendatangkan kemaslahatan dan menghindarkan pada kerusakan", tandasnya.

Senada dengan KH. Dasuki, Forum Silaturahmi Bangsa (FSB) bersama Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) se Kota Bandung mendeklarasikan penolakan terhadap politisasi masjid untuk kepentingan tertentu dan segala bentuk ujaran kebencian, provokatif, radikalisme dan intoleransi serta menguatkan masjid sebagai tempat ibadah yang menyampaikan ajaran Islam rahmatan lil alamin.

Baca Lainnya