Wahyu Suherman (43) saat ditemui di kiosnya yang berada di bibir Kawah Ratu.
Wahyu Suherman (43) saat ditemui di kiosnya yang berada di bibir Kawah Ratu. [Fery Bangkit]
News

Geliat Pedagang TWA Tangkuban Parahu Kembalikan Pendapatan Rp 12 Juta

Limawaktu.id - Para pedagang di wilayah Desa Cikole, Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) akhirnya bisa berjualan kembali di Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Tangkuban Parahu setelah hampir tiga bulan vakum. Mereka mulai berktifitas sejak Selasa (23/10/2019) atau pasca status Gunung Tangkuban Parahu diturunkan dari Level II (Waspada) menjadi Level I (Normal).


Pedagang terlihat sibuk merapihkan barang dagangannya, sambil sesekali membersihkan sisa abu vulkanik akibat erupsi Gunung Tangkubanparahu sejak tiga bulan yang lalu. Di dalam kios pedagang rata-rata sudah bersih, hanya saja semua atap kios mereka masih terlihat ada abu vulkanik yang menempel, namun hal itu tidak menyurutkan mereka untuk kembali berjualan seperti biasanya.

Tak hanya di dalam kios pedagang saja yang sudah bersih, di sekitar area tempat parkir juga sudah tampak bersih dari abu vulkanik, sehingga pedagang dan wisatawan bisa nyaman ketika berada di tempat wisata yang terkenal dengan Legenda Sangkuriang ini.

"Iya mulai hari ini Alhamdulillah sudah bisa berjualan lagi setelah tiga bulan saya berjualan keliling akibat Gunung Tangkuban parahu ditutup," ujar pedagang aksesoris Wahyu Suherman (43) saat ditemui di kiosnya yang berada di bibir Kawah Ratu.

Selama tiga bulan Gunung Tangkuban Parahu ditutup, ia mengaku penghasilannya merosot tajam. Padahal ketika berjualan di tempat tersebut, selama satu bulan saja ia bisa meraup keuntungan Rp 3 hingga 4 juta per bulan.

"Berarti kalau tiga bulan saya tidak berjualan disini, pendapatan saya hilang kurang lebih sekitar Rp 12 juta, kalau berjualan keliling pendapatannya hanya cukup untuk makan sehari-hari," ungkapnya. Untuk berjualan kembali, Wahyu hanya mengandalkan sisa barang yang tidak terjual pada tiga bulan yang lalu. Sebab, jika harus menambah barang Wahyu mengaku, tidak memiliki modal yang cukup.

"Jangankan untuk modal jualan lagi, untuk makan dan biaya anak sekolah juga tidak cukup ketika saya tidak berjualan disini," ujarnya. Hal serupa diutarakan pedagang lainnya, Ai Nuraeni (30), selama tiga bulan terakhir, ia bersama suaminya Ade Nurjaman (35) harus berjualan di sekitar Cikole dan gerbang masuk Gunung Tangkubanparahu.

"Saya juga jualan aksesoris, tapi yang dijual sekarang sisa barang yang tidak terjual sebelum Gunung Tangkubanparahu erupsi pada tiga bulan yang lalu," terangnya. Kedua pedagang tersebut, mengatakan, selama Gunung Tangkubanparahu ditutup, sebagian dagangannya harus dibawa ke rumah, kemudian setelah dibuka barang dagangan itu dibawa kembali ke kiosnya.

Baca Lainnya