Kamis, 21 Februari 2019 16:42

Gadis Thailand Dibalik Tragedi Longsor Sampah Kampung Adat Cireundeu

Reporter : Fery Bangkit 

Limawaktu.id - 14 tahun silam, ratusan nyawa melayang dan puluhan rumah tertimbun longsoran tanah dari Tempat Pembuangan sampah (TPAS) Leuwigajah.

Tragedi yang cukup ironis itu terjadi Senin, 21 Februari 2005 sekitar pukul 02.00 WIB dini hari. Warga yang tengah tertidur pulas tiba-tiba terkubur sampah yang mencapai 50-70 meter.

Baca Juga : Menguak Tragedi 13 Tahun Silam di Cireundeu Hingga Dijadikan Hari Peduli Sampah Nasional

Ada dua wilayah yang terkena dampak bencana longsoran sampah saat itu, yakni Kampung Pojok, Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi serta Kampung Cilimus dan Kampung Gunung Aki, Desa Batujajar Timur, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat.

Penyebab tragedi itu dikarenakan guyuran hujan selama dua hari berturut-turut sehingga gunungan sampah di TPA Leuwigajah pun akhirnya longsor dan menimbun pemukiman penduduk.

Untuk mengenang tragedi nahas itu, pemerintah menetapkan 21 Februari sebagai Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN).

Bagi warga Kampung Adat cireundeu, Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan Kota Cimahi, tanggal 21 Februari pun menjadi bagian tradisi yang wajib diperingati setiap tahun. Tradisi peringatan dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada para korban dan berharap kejadian serupa tak terulang lagi dikemudian hari.

Seperti yang tergambar Kamis (21/2/2019) pagi tadi. Dimana warga dan sesepuh Kampung Adat Cireundeu menggelar ritual tepat di lokasi longsor sampah 14 tahun silam itu.

Namun, ada yang berbeda dalam peringatan tragedi bencana kali ini. Ada dua seniman ikut serta dalam ritual tahun ini. Pertama, seniman asal Thailand bernama Mill.

Berbalut baju khas negeri Gajah Putih yakni Chu Thai, gadis cantik itu menari disekitar lokasi ritual atau lokasi tragedi longsoran sampah. Warga kampung adat turut mengiringi di belakangnya, disertai alunan suara karinding yang mereka mainkan.

Setelah itu, gadis Thailand itu juga didaulat untuk ikut menaburkan bunga dan air di sekitar lokasi. Prosesi itu melambangkan harapan agar setelah ini hanya wangi yang tercium di Leuwigajah, bukan bau sampah seperti puluhan tahun lalu.

"Dulunya air mata itu tertimbun dan mudah-mudahan kembali jadi mata air lagi," kata sesepuh Kampung Adat Cireundeu, Asep Abas.

Kemudian, ada seniman asal Padang, Irmal Sugama. Dihadapan warga, pria berambut gondrong itu bermain teatrikal. Aksinya itu cukup berisiko. Sebab, ia masuk ke dalam plastik sepanjang 15 meter yang ditutup rapat. Ada sekitar 10 menit Irmal berada di dalam plastik bening itu.

Irmal menjelaskan, aksi yang dilakukannya itu semata-mata ingin menyuarakan, ingin mengingatkan betapa pengap dan baunya ketika puluhan meter sampah menimbun pemukiman penduduk 14 tahun silam.

"Kami di sini merasakan sesak nafasnya, bau sampahnya dan diakhiri dengan tragedi 21 Febrari 2005. Sodara kami tertimbun, bayangkan. Sudah tidak bisa merasakan apa-apa," ujarnya.

Setelah mengikuti ritual tragedi ini, Irmal ingin menyuarakan peringatan ini ke masyarakat luas. Bahkan, ia menyarankan agar dibangun berupa tugu di sekitar lokasi bencana. Tujuannya, sebagai pengingat bahwa sejarah kelam itu merupakan pembelajaran alam.

Baca Lainnya