Senin, 21 Mei 2018 21:30

EDAS dukung Pengesahan Undang-undang Anti Terorisme dan Pelibatan TNI

Reporter : Jumadi Kusuma
Eksplorasi Dinamika dan Analisi Sosial (EDAS) Bandung mendukung pengesahan revisi Undang-undang nomor 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.
Eksplorasi Dinamika dan Analisi Sosial (EDAS) Bandung mendukung pengesahan revisi Undang-undang nomor 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. [Limawaktu]

Limawaktu.id,- Pasca teror bom Surabaya, wacana dan desakan masyarakat terhadap pengesahan revisi Undang-undang nomor 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, semakin menguat. Hal itu disuarakan juga oleh Eksplorasi Dinamika dan Analisi Sosial (EDAS) Bandung.

Direktur Eksekutif EDAS, Dr. Wawan Gunawan mendukung desakan Presiden Jokowidodo untuk segera mengesahkan UU anti Terorisme dan keterlibatan tni dalam pemberantasan teroris.

Baca Juga : PWI Pusat dukung Pengesahan UU Antiterorisme yang tidak Membelenggu Kebebasan Pers

"Desakan presiden saya dukung tanpa melihat itu presidennya. Selama untuk menjaga keutuhan negara, selama kontrolnya kuat dari publik.", ujar Wawan selepas Dialog Dwimingguan EDAS yang bertema 'Teroris Manifestasi Radikalisme?' Bertempat di Bale M Cafe, Arcamanik Kota Bandung, Minggu (20/5/18).

Menurutnya jika Undang-undang tersebut tidak segera disahkan nanti yang jadi korban orang Islam yang mayoritas.

Baca Juga : FKUB Kota Cimahi Dorong DPR RI Tuntaskan UU Antiterorisme

Terkait definisi teroris yang menjadi perdebatan, Wawan berpendapat bahwa teroris itu adalah yang mengancam kedaulatan rakyat dan kedaulatan ummat.

"Orang yang melakukan teror itu orang yang radikal, maksudnya kekerasan yang diwujudkan dimanifestasikan lewat teror. Dan siapapun yang melakukan teror sehingga orang merasa ketakutan dan tidak aman itu adalah teroris," pungkasnya.

Dialog diakhiri dengan buka puasa bersama tersebut juga dihadiri oleh H. Aceng H.M. Fikri, S.Ag. Anggota MPR/DPD RI dari Jawa Barat, Dr. Phil Gustiana (Sekretaris Forum Koordinasi Penanggulangan Teroris/FKPT Jabar) dan Angga N. Rachmat, S.IP, MA. (Pengamat Keamanan dan Intelejen/Kandidat Doktor Universitas Padjadjaran).

Baca Lainnya